Tag

, , ,

Perhelatan Musik Hutan 2015 baru saja usai. Tahun ini merupakan tahun kedua dari event tersebut.

Mendengar  tentang Musik Hutan, yang terlintas di benak kita mungkin menikmati suguhan musik secara live di tengah hutan. Duduk di depan tenda camp, beratapkan langit malam yang bertabur bintang. Sesekali mungkin mengobrol dengan orang yang duduk di samping kita dengan segelas kopi hangat yang masih mengepul di tangan masing-masing.

Setelah tahun lalu belum sempat menghadiri kegiatan ini, tahun ini saya berkesempatan menyambangi perhelatan tersebut.  Tepat menit-menit terakhir saya bersama ketiga rekan berhasil mengantongi tiket, yang beberapa hari sebelumnya  sudah terjual habis.

Kami membeli tiket dari teman yang terpaksa berhalangan hadir, dengan harga miring pula.

Harga tiket bervariasi, mulai dari kelas festival senilai Rp.200.000,- dengan fasilitas menginap di tenda barak yang telah disediakan panitia dan dapat menampung puluhan peserta sekaligus. Atau peserta dapat membawa tenda sendiri dan memanfaatkan space yang tersedia.

Tiket VIP  sendiri senilai Rp. 2.000.000,- untuk empat sampai lima orang seingat saya,  dengan fasilitas penginapan villa yang letaknya tidak berjauhan dari lokasi kegiatan.

Setelah menempuh jarak sekitar 70 Km dari kota Makassar, akhirnya kami tiba di lokasi kegiatan. Tepatnya di desa Bengo-bengo, kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.  Lokasi kegiatan Musik Hutan 2015 ini  merupakan kawasan Hutan Pendidikan UNHAS.

Rombongan saya tiba sekitar pukul 21.20 Wita. Beberapa rangkaian acara tentu saja telah terlewatkan.

Puluhan tenda memadati lokasi camp yang berkontur landai ini. Area panggung  terletak di daerah paling rendah, sehingga kita dapat menikmati suguhan acara dari segala sisi.

Panggung Musik Hutan 2015

Panggung Musik Hutan 2015

Panggung kegiatan ini  hanya beralaskan rumput, tanpa level atau mini stage. Untaian kain bermotif beragam  warna begitu apik ketika terkena sorotan dekorasi bola-bola lampu yang diletakkan begitu saja di atas rumput.  Sederhana sekaligus sangat artistik.

Ketika mengedarkan pandangan ke sekeliling lokasi, beberapa untaian lampu kecil menjuntai dari batang pohon tinggi, melintasi atap tenda para peserta. Di beberapa titik khusus, juga dipasang lampu yang telah didekorasi sedemikian rupa, tidak hanya untuk penerangan, tapi sekaligus menambah suasana sendu di lokasi Musik Hutan.

********

Baru saja selesai mendirikan tenda badai -sejenis tenda yang biasanya digunakan untuk nge camp dengan alas persegi, dan mengerucut sampai ke puncak tenda dengan kapasitas mulai dari dua hingga enam orang – kami dihentakkan dengan suguhan musik aliran rock alternative. Tidak hanya satu performance, tapi beberapa performance nyaris menyuguhkan aliran  musik yang serupa.

Jejeran Tenda Peserta di Musik Hutan 2015

Jejeran Tenda Peserta di Musik Hutan 2015

Kekecewaan saya tentang Musik Hutan berawal dari sini.

“Terlalu hingar untuk sebuah liburan di tengah alam” ungkap salah satu teman.

Tidak ada bedanya dengan menonton konser musik di tengah kota. Hanya berpindah tempat.

“ Mungkin sengaja ‘kak, menampilkan seluruh aliran musik, setiap orang kan seleranya beda”. Hibur salah satu teman saya yang lain.

Tidak ada salahnya dengan alasan yang terakhir. Hanya saja, mungkin nyaris semua peserta yang hadir pada perhelatan tersebut, justru sengaja datang untuk menepi sejenak dari keriuhan kota.

Untungnya kegiatan ini dipandu dua orang MC yang lumayan mumpuni sebagai  entertainer.  Mereka idak hanya cerdas, tapi piawai membuat lelucon konyol yang memancing riuh tawa penonton.

Jika biasanya dua orang MC memainkan komposisi, satu sebagai type “Pemancing” dan satunya sebagai “Pemakan Umpan” , beda dengan duet MC Musik Hutan kali ini.

Mereka kompak menjadi pemancing dan justru menjadikan beberapa penonton sebagai pemakan umpan.

Tetap dengan lelucon yang ringan, meskipun sedikit vulgar namun tidak dimainkan secara gamblang, nalar penonton selalu terpancing dengan sendirinya.

Malam pertama kekecewaan saya sedikit terobati dengan penampilan Ska With Klasik. Salah satu band indie beraliran ska ini, berhasil mengajak penonton ikut bernyanyi dan bergoyang. Bahkan beberapa tamu bule’ yang hadir pada malam itu tanpa segan ikut bergoyang di depan area panggung.

Meskipun beberapa lagu terdengar sedikit hingar, penonton masih dapat menikmati performance mereka. Beberapa lagu sudah akrab di telinga sehingga mau tidak mau, penonton termasuk saya ikut berdendang. Khususnya  ketika mereka membawakan lagu berjudul Pesta.

Menjelang berakhirnya acara di malam pertama, pertunjukkan dilanjutkan dengan suguhan elektronikal musik.

“ Pindah mi’ Retro di tengah hutan ‘kak”. Kembali salah seorang teman berseloroh sambil menyebutkan salah satu tempat clubbing di kota Makassar.

Jujur saja hingga bagian ini, imajinasi saya tentang berlibur di tengah hutan kembali terusik. Saya memilih masuk ke dalam tenda, dan berbaring meregangkan tubuh. Dari luar masih terdengar  suguhan elektronikal musik yang  sayangnya menyuguhkan irama yang sudah lawas. Mengapa mereka tidak memilih lagu Top 40 untuk mereka mix kan?

Salah seorang teman lain bahkan dengan kejamnya berkata

“ Seperti musik pete-pete’ ’” selorohnya mengibaratkan seperti mendengarkan house music di atas angkot.

Jika harus jujur, sebagai orang  yang “pernah” jadi penikmat musik dugem, saya harus mengiyakan. Bahkan beberapa penonton yang duduk di sekitar panggung – kecuali beberapa tamu bule’- sepertinya enggan untuk ikut bergoyang menikmati suguhan musik tersebut. Kurang menghentak, beat nya kurang klimaks, sedikit nanggung untuk ukuran musik dugem.

Tidak betah berada di dalam tenda, saya memutuskan berkeliling ke area foodcurt. Ada sekitar delapan unit stand yang menjajakan makanan dan minuman. Mulai dari jagung bakar hingga nasi campur. Mulai dari Espresso hingga Sara’ba, minuman khas masyarakat lokal yang terbuat dari Jahe.

Area Foodcurt Musik Hutan 2015

Area Foodcurt Musik Hutan 2015

Kami awalnya sempat salah kaprah. Mengira bahwa harga tiket sudah include dengan  konsumsi. Alhasil kami tidak membawa persiapan ransum yang memadai.

Peserta diberi pilihan  untuk  berbelanja di area foodcurt yang telah disediakan.  Sistem transaksinya termasuk unik. Kita harus menukarkan uang tunai dengan voucher belanja terlebih dahulu di “Bank Area”. Mulai dari pecahan Rp. 5000,- hingga pecahan Rp. 50.000,-.  Bentuknya mirip dengan lembaran mata uang  permainan monopoli. Voucher inilah yang kita gunakan untuk bertransaksi dan berbelanja.

Sebelum memutuskan untuk tidur, saya sempat berselonjor di depan panggung.  Menikmati suguhan pemutaran film dokumenter, tentang perjalanan sembilan orang Skaters Asia yang melakukan tour di Kuala Lumpur dan Singapore.

Pemutaran film tersebut menjadi rangkaian acara penutup di malam pertama Musik Hutan 2015.

Saya memutuskan mengabari teman yang akan menyusul besok pagi. Meminta bantuan donasi ransum berupa makanan, camilan, dan kopi.

Saya merebahkan tubuh di dalam tenda. Menghirup udara aroma sejuk hutan sebanyak-banyaknya. Jika kebosanan melanda hingga esok, saya akan coba menawarkan ke teman-teman untuk berpindah lokasi camp. Kemana saja. Mungkin ada pilihan lain yang lebih tenang dan tidak terlalu jauh dari sekitar lokasi. Air terjun, sungai, atau apa saja.

*******

Sekitar pukul setengah sembilan, saya terbangun oleh suara kedua MC kocak yang membangunkan seluruh peserta. Matahari sudah mulai terik. Untungnya rimbunan pohon pinus menghalangi sinar matahari langsung masuk ke dalam tenda.

Beberapa band yang menjadi pembuka di hari ke dua, langsung menghentak pagi di Musik Hutan 2015. Kembali dengan aliran musik rock  yang terlalu hingar bingar untuk sebuah pagi di tengah hutan.

Selang berapa waktu, teman kami yang menyusul pagi itu akhirnya tiba. Kami menyambut dengan sumringah. Apalagi melihat barang bawaan berupa ransum yang cukup memadai hingga esok hari.

Sementara sibuk mempersiapkan sarapan, saya terpaksa harus menoleh ke arah panggung. Di awali dengan dentingan piano yang groovy , tanpa sengaja membuat kaki ikut berdendang.

Adalah The Joys yang menjadi pengobat kekecewaan di hari kedua. Mereka membawakan lagu “Boy’s Don’t Cry”. Saya bahkan melangkahkan kaki ke depan panggung untuk melihat penampilan mereka dari dekat, ikut menikmati groovy musik yang mereka bawakan.

Kejutan tidak hanya sampai disitu, tepat ketika MC menyampaikan bahwa di lokasi Musik Hutan juga ada Kedai Buku Jenny, saya langsung bergegas. Kita bisa meminjam dan membaca buku apa saja, cukup dengan menitipkan kartu tanda pengenal.

Idenya sederhana, namun saya harus salut dengan kepiawaian pelaksana kegiatan yang jeli membaca kemungkinan  terburuk jika ada peserta yang kurang bisa menikmati seluruh rangkaian acara.

Mereka menawarkan membaca buku. Dan buat saya membaca buku merupakan senjata ampuh pembunuh kebosanan.

Sudah bisa ditebak. Selama beberapa jam ke depan saya menenggelamkan diri dengan novel sastra terjemahan. Berbaring sambil berayun di atas hammock di tengah pohon pinus yang menjulang. Sesekali ikut bertepuk tangan setiap kali The Joys selesai membawakan lagu mereka.

Konsentrasi saya kembali buyar. Mata saya ingin tetap melanjutkan bacaan yang lagi seru-serunya, namun telinga saya memaksa untuk mengalihkan pandangan kembali ke arah panggung.

Menyaksikan keseruan panggung Musik HUtan 2015 di hari ke dua

Menyaksikan keseruan panggung Musik HUtan 2015 di hari ke dua

Performance dari band parodi lokal kali ini. Tidak hanya dengan dandanan yang eksentrik, tetapi juga dengan lirik lagu yang disampaikan dalam bahasa Makassar. Penampilan dari  Bulu Ayam -nama band tersebut- berhasil mengocok perut penonton bahkan terpingkal-pingkal.

Simak saja potongan lirik berikut ini

Barongko, Unti dipeca’ peca’

Pisang Ijo, Pisang dikasumba

Pisang Epe’, pisang disessa-sessa

Pallu Butung, Pisang disa’re santang

Terjemahannya kurang lebih seperti ini,

Barongko, pisang yang diremas-remas

Pisang Ijo, pisang yang diberi pewarna

Pisang Epe’, pisang yang disiksa

Pallu Butung, pisang yang diberi santan.

Penggalan lirik di atas menceritakan bahwa Makassar kaya akan penganan lokal, khususnya yang terbuat dari pisang. Mereka membawakan lagu tersebut dengan irama gembira dan aksi panggung yang kocak. Hutan pun pecah dengan tawa para penonton.

       ******

Setelah istirahat siang, Fery Febryansyah membuka kembali panggung musik hutan.  Iringan gitar akustik yang dimainkannya membuat saya semakin tenggelam dengan suasana alam siang itu.

Apa yang lebih menyenangkan dari membaca buku sambil berayunan di atas hammock, menndengarkan irama musik akustik, di tengah rerimbunan pinus pula.

Finally! Saya menemukan soul dari  perhelatan Musik Hutan kali ini.

Bahkan penonton berkali kali meminta Fery Febryansyah untuk melanjutkan performance nya di lagu ke empat, ke lima dan seterusnya.  Jika saja tidak mengingat durasi untuk band lainnya, mungkin MC harus mengalah mengikuti keinginan penonton.

Ternyata bukan hanya saya, mereka pun menemukan soul dari Musik Hutan melalui irama akustik  yang dibawakan oleh Fery Febryansyah.

Jika lumrahnya kita mendengar musik reggae di sebuah pulau atau di pinggir pantai, kali ini pelaksana Musik Hutan mengajak peserta untuk menikmati reggae di tengah hutan.

Giliran Gala Rasta menunjukkan kepiawaian mereka.  Sangat easy listening, dan begitu mudah diterima bahkan untuk orang yang baru pertama kali mendengar lagu mereka. Wajar saja jika band ini menjadi salah satu nominator di ajang musik Anugeah Musik Indonesia (AMI ) Award 2015.

********

Masih di hari kedua. Sedikit kekecewaan di malam pertama Musik Hutan 2015 menguap begitu saja.

Penonton mendadak hening ketika setelah sholat isya. Panggung dibuka dengan suara petikan gitar yang bernuansa etnik. Sesekali suara vokalis wanita bersenandung seperti suara seorang yang merapal mantra.

Hanya dengan lirik pembuka ” hemmmmmm..hemmmm…heiyyeee…hiyyyeeeeee”, sang vokalis langsung menghipnotis penonton.

Ketika siang tadi saya berkesimpulan bahwa saya menemukan soul dari Musik Hutan, mungkin saya perlu meralatnya.  Justru ini musik hutan yang sebenarnya.

Iringan gitar bernuansa etnik plus suara sang vokalis yang bernyanyi tanpa tekhnik yang rumit , berhasil menghadirkan suasana magis tersendiri. Saya bahkan masih asing dengan lagu yang mereka bawakan. Namun seperti sihir, Theory Of Discustic berhasil membawa penonton larut dalam musik mereka.

Saya sempat melirik ke atas langit. Bulan sedang purnama, bulat, utuh. Saya kembali menghirup udara hutan sebanyak-banyaknya.

Mungkin ini perasaan yang sedikit berlebihan. Saya merasa saya bisa saja jatuh cinta dengan siapa pun yang ada pada malam itu.

Alam, bulan purnama, malam, dan musik etnik. Siapa yang tidak jatuh cinta?

Baru saja hendak beranjak menuju tenda, seorang musisi lokal melanjutkan panggung. Dia membuka performance dengan menyampaikan rasa bangga nya sebagai pemusik lokal diberi panggung di tanah sendiri.

Adalah Seselawing, yang menjadi performance selanjutnya. Mengusung musik Jazz, dengan lirik lagu dialek Makassar.  Alih alih kedengaran kasar, irama lagunya justru menghadirkan suasana romantis malam itu.

Lamata’ mi pacaran sayang

Na masih dumba’ dumba’ nyawaku

Setiap kaliki’ ketemu, na ki siruppa mata”

(Sudah lama kita berpacaran sayang

Namun nyawaku masih berdebar-debar

Setiap kali kita ketemu, ketika matakita saling memandang)

Begitu kira kira terjemahan liriknya.  Penonton sampai ber”ciehh-ciehhh” dengan lirik yang disenandungkan.  Ahh, saya menyesal mengapa belum memiliki pasangan yang bisa diajak malam itu. Bisa saja itu menjadi malam paling romantis yang pernah kami lewati

Lagu berikutnya, Seselawing membawakan lagu tradisional “ Cincing Banca’”. Lagu yang disenandungkan oleh anak-anak ketika memainkan salah satu permainan tradisional. Serupa cublak-cublak suweng dalam permainan tradisional Jawa.

Tidak tanggung-tanggung. Awalnya lagu ini dibawakan dengan irama reggae, dan perlahan tempo besotan gitarnya mulai cepat , bertambah cepat, semakin cepat, dan bertambah cepat. Lalu tiba-tiba melambat, semakin lambat, nyaris tidak terdengar dan tiba-tiba disambut dengan irama jimbe yang menghentak cepat.

Bravo untuk dinamika performance Seselawing !!

Mau tidak mau memancing emosional penonton untuk terus bertepuk tangan selama pertunjukkan. Wajah kepuasan penonton jelas terpancar dibawah sorot keremangan lampu dekorasi.

Pertunjukkan malam itu ditutup dengan performance Dj’ Austin. Kali ini untuk jenis musik yang dibawakan lumayan update. Saya terpaksa kembali meninggalkan novel bacaan sejenak, memilih duduk di dekat panggung dan ikut menikmati alunan musik dari Dj’ Austin.

*****

Ada satu hal yang saya garis bawahi pada perhelatan Musik Hutan 2015. Kembali tentang jenis musik tertentu, musik rock alternative misalnya yang terlalu bising untuk sebuah hutan.

Bukan hanya demi kenyamanan pendengaran pengunjung, namun juga kenyamanan aneka ragam hayati yang mendiami lokasi tersebut.

Semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan penyelenggara kegiatan untuk tahun-tahun berikutnya. Mengingat kebisingan yang diakibatkan oleh aliran musik tersebut, apalagi dengan kekuatan soundsytem 10.000 Watt.  Semoga saja sang “tuan rumah” tidak merasa terusir lalu mengungsi sejenak dari habitatnya. Ini hanya kekhawatiran pribadi tentu saja.

Apalagi Musik Hutan kali ini juga mengkampanyekan perlindungan terhadap Macaca Maura, sejenis monyet endemik khas Sulawesi.

Selain itu, secara keseluruhan saya salut atas pagelaran Musik Hutan 2015. Tidak hanya sekedar perhelatan musik biasa, namun Musik Hutan juga mengajak para peserta untuk lebih menikmati alam secara santun.

Satu fenomena menarik untuk Musik Hutan 2015.

Beberapa waktu lalu, dunia sosial media sempat di hebohkan dengan beberapa tingkah laku para penikmat alam yang masih “ababil”. Mereka dianggap menikmati alam hanya karena ikut-ikutan. Masih kurang kesadaran pentingnya menjaga lingkungan alam.

Akibatnya banyak pecinta alam yang protes dengan kelakuan mereka.  Mereka dianggap salah satu penyebab banyaknya sampah yang menumpuk entah di pegunungan, di lautan, atau tempat wisata alam lainnya.

Untuk issue di atas saya tidak bisa berkomentar apa-apa.

Yang jelas di Musik Hutan 2015, jujur saja banyak pengunjung yang tergolong masih “ababil”. Sayangnya teori di atas bahwa pengunjung ababil yang hanya bisa menyisakan banyak sampah tidak terbukti.

Di perhelatan Musik Hutan 2015, baik di hari pertama maupun di hari ke dua, tidak ada sampah yang berserakan sepanjang pengamatan saya. Bersih sebersih-bersihnya dari sampah kegiatan.

Salut !

Untuk kegiatan nge-camp dengan beberapa orang saja, terkadang sulit untuk tidak meninggalkan sampah. Apalagi ini , kegiatan yang melibatkan ratusan orang. Tidak terbayang sampah yang harusnya timbul akibat kegiatan ini.

Namun Musik Hutan 2015 mampu menjadi contoh yang baik. Tidak ada sampah, tidak ada api unggun, tidak ada pengrusakan pohon. Mereka berhasil mengedukasi para peserta.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada seluruh penggiat alam, tidak berlebihan rasanya jika Musik Hutan secara pribadi bisa dijadikan sebagai salah satu contoh untuk berkegiatan di alam. Mereka berhasil menepis kekhawatiran beberapa pihak yang mengira bahwa kegiatan mereka justru mungkin menyisakan tumpukan sampah di tengah hutan.

Terlepas dari beberapa pengisi acara yang terkesan sedikit dipaksakan untuk mengisi panggung Musik Hutan 2015, khususnya musik yang terlalu hingar di tengah hutan, saya salut untuk keberanian panitia penyelanggara yang merangkul musisi lokal dari segala lapisan.

Satu diantara sekian event musik yang memberi panggung secara penuh kepada musisi lokal. Tanpa harus menyewa bintang tamu Band papan atas, tapi berhasil meberikan suguhan konser musik yang tidak kalah memuaskan.

Panitia Musik Hutan sekali lagi memberi contoh, jika bukan kita yang meberi panggung untuk karya karya musik lokas. Siapa lagi?

Setidaknya bisa memberi ruang bagi karya musisi lokal agar dapat dinikmati dan menjadi raja di tanah sendiri.

Bahkan dari perhelatan Musik Hutan 2015 ini, saya akhirnya memiliki beberapa nama baru  yang bisa menjadi  referensi untuk menghidupkan panggung beberapa event ke depan. Sekali lagi tanpa perlu menelan biaya besar-besaran dibandingkan harus mengundang Band Ibu Kota.

Selamat untuk Musik Hutan 2015. Terima kasih telah memberikan suguhan acara yang hebat. Semoga di tahun berikutnya, saya berkesempatan hadir untuk kembali menikmati secara langsung Musik Hutan 2016.  Semoga Musik Hutan tetap bisa menjadi contoh untuk perhelatan musik lainnya.

Iklan