Tag

,

11084762_1381331758858034_964806790_n

Tulisan ini dibuat dalam rangka #BatuSekam (Baku Tulis Senin Kamis) Kelas Menulis Kepo

Bagian ini selalu saja menjadi favorit saya. Khususnya di edisi kedua #BatuSekam ini. Akhirnya saya memiliki alasan untuk mengulik tuntas, tentang sosok yang satu ini.

Jujur saja, hingga hari ini saya belum menemukan alasan yang jelas untuk menguliti sosok yang satu ini. Dia jelas merasa risih jika harus membahas ranah pribadi.

Namun kali ini, beda konteks. Bayangkan saking senangnya, kali ini saya menulis sambil tersenyum. Bukan senyum tulus seperti dalam tulisan Senyum Muktamar. Tapi senyum kemenangan.

Namanya Andi Nasser Otto. Orang acapkali memanggilnya ‘Na. Singkat, padat.  Orangnya pendiam, sedikit bicara, lebih memilih menahan perasaan. (Serangan pertama).

Postur tubuhnya tinggi, kurus, berkulit putih dengan rambut hitam pendek bergelombang. Matanya bulat, dengan penuh rasa ingin tahu yang banyak.

Meskipun berkulit terang, ‘Na bukanlah type pria yang  “manja”.  Terlihat dari urat-urat tangan yang menonjol, menggambarkan bahwa betapa selama ini kedua tangan itu terbiasa bekerja keras.

Jika saja ada wanita yang berani “mengintip” ke hatinya, mungkin saja sang wanita menemukan seonggok hati yang juga berurat,mungkin dengan urat yang lebih banyak,  lelah bekerja keras untuk lepas dari masa lalu. Mungkin saja.

Nah, sampai sini cukup untuk serangan pertama.

Selanjutnya saya akan mengajak anda  berjalan-jalan sejenak, menelusuri apa yang ada di benak seorang ‘Na, lewat tulisannya.  Untuk awam seperti saya, mungkin harus beberapa kali mengernyitkan kening, bahkan perlu membaca berulang-ulang untuk memahami maksud yang tersirat dalam tulisan seorang  ‘Na. Namun untuk pecinta kesusastraan klasik, saya hanya bisa mengucapkan selamat menikmati.

Mari silahkan berkunjung ke Desember . Singkat, padat. Saya harus mengakui kecerdasan ‘Na, untuk menyampaikan pesan bagaimana seorang wanita dalam tulisan ini ( saya tidak mengatakan “mantan” ) , telah menemukan separuh jiwa yang lain. Sepuluh baris, dan saya menggaris bawahi kalimat di baris ke lima.

Maksud saya, aduh!!  Bagaimana mungkin” kekecewaan utuh” hanya bisa digambarkan dalam sepuluh baris?

Dan seorang ‘Na, bisa melakukan itu.

Selain ‘Na –bisa menggambarkan-seorang pria penyimpan luka yang baik, tulisannya juga bisa menggambarkan seorang  pencinta yang abadi.  Silahkan intip tulisan ini, Selamat Hari Ibu-Mantan.

Tidak ingin tergesa-gesa mengambil kesimpulan, saya harus membaca pelan, berulang. Mencoba menarik makna dari setiap rangkaian kata, setiap kalimatnya. Hingga tiba pada kalimat

potret yg saya yakin tak seorang pun mahluk bernyawa di semesta ini akan membencinya.

potret yg mengabadikan kebahagiaan seorang malaikat dan seorang bidadari.

potret seorang bayi yg baru dilahirkan, yg damai di peluk ibunya.

Tiga baris, tiga kalimat, untuk manusia tiga huruf  yang  paling mulia di muka bumi. Kita menyebutnya, IBU.

Dalam tulisan ini, jujur saya masih bingung.  Jika dilihat pada judul artikel, yang menjadi pesan inti pada tulisan di atas adalah tiga baris terakhir.  Baris-baris sebelumnya mungkin hanya pelengkap. Tapi baris pelengkap dalam tulisan di atas, juga memiliki pesan inti bukan?

Namun mungkin justru inilah yang menjadi gaya tulisan kesusastraan klasik.  Setiap kata, setiap kalimat harus hidup. Dengan gaya mereka sendiri.  Dalam satu kalimat, ada banyak pesan yang bisa disampaikan. Para pembaca dibiarkan menelaah sendiri.  Tanpa penulis harus repot-repot memberikan gambaran detail latar, waktu, tempat, namun pesan bisa tersampaikan.

Saya ingat pertemuan kali pertama dengan ‘Na. Saat itu, saya bersama puluhan kawan lainnya, sedang bermain arus  di Sungai Ule’, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Dengan sebuah ban yang dililitkan dengan webbing, kami mengarungi arus sungai yang cukup deras. Pangkal webbing dipegang dari atas bebatuan setinggi tiga meter. Untuk keamanan, agar ban yang kami gunakan tidak terseret arus terlalu jauh.

“ Siapa itu, kak? Kenapa mereka di atas saja, ndak ikut main air sama anak-anak” Tanya salah seorang  kawan.

“ Oh, ndak taumi.  Mungkin dari tim rescue atau semacamnyalah, sengaja disewa untuk jaga keamanannya anak-anak” Jawab saya enteng.

Saat  itu ‘Na lah yang memegang pangkal webbing, tanpa ikut turun bermain air bersama kawan lainnya.

**********

Seandainya saya tidak pernah  mendengar cerita ini, mungkin saya tidak percaya bahwa tulisan berikut  adalah tulisan ‘Na.  Gunung dan Kawanku.  Ada dua puluh bagian lebih.

Untuk sosok pendiam dan memilih menyimpan banyak hal, jujur saja saya kaget bahwa ‘Na ternyata bisa lebih “cerewet” dari biasanya. Kali ini tanpa kesusastraan yang berbelit-belit, ‘Na menyampaikan kisah dengan lugas dan gamblang. Meskipun dengan konsekuensi dia harus bercerita lebih banyak dari biasanya. Terlalu banyak untuk karakter seorang’Na.

Sebagai pembaca saya cukup menikmati gaya tulisan ‘Na pada umumnya. Mulai dari gaya kesusastraan klasik yang singkat namun syarat makna, ataupun dengan gaya tulisan lugas, gamblang, dan lebih panjang dari biasanya.

Asalkan saja ‘Na tidak menulis dengan gaya kesusastraan plus lebih panjang dari biasanya. Saya pasti  memilih membaca diktat Fisika tentang teori kuantum, Maxwell, atau semacamnya. Sumpah.

Yang menjadi tulisan favorit saya di matamatahari.com , adalah bagaimana sosok yang digambarkan dalam tulisan ‘Na ( mudah-mudahan itu bukan dirinya) secara terpaksa harus kembali ke sepuluh tahun kemudian hanya karena mengunjungi suatu tempat.

Untuk seseorang yang kunamai masa lalu . Na’ memang penyimpan masa lalu yang baik. Saya berpikir , dalam kurun waktu sepuluh tahun harusnya banyak kenangan lain yang bisa tercipta di tempat itu.

Saya belum mengerti , mengapa ‘Na, harus kembali pada bagian sepuluh tahun sebelumnya. Mengapa bukan pada delapan tahun sebelumnya, atau satu tahun lalu sebelumnya, atau beberapa bulan sebelumnya. Masih segar dalam ingatan tentu saja.

Saya hanya menemukan dua  kemungkinan. Dalam kurun waktu tersebut, memang belum ada kisah menarik yang penting untuk diingat. Atau, sosok sepuluh tahun lalu, sudah memberi kenangan yang terlalu kuat untuk sulit dilupakan. Siapapun dia, mungkin dia lupa, bahwa sekali lagi ‘Na, adalah penyimpan luka yang baik.

Salah satu minuman favorit Na'

Salah satu minuman favorit ‘Na.

Nah, untuk seorang ‘Na,  sebanyak apapun luka yang kau simpan, teruslah menulis. Atau jika  menulis sudah terlalu pahit untukmu, mungkin kamu perlu sedikit pemanis dalam kisahmu. Seperti yang sering kau lakukan, menghabiskan bergelas-gelas FrappucinoCream dengan ekstra lelehan saus cokelat dari yang seharusnya. Biasanya kau lebih banyak tersenyum dan kelihatan lebih cerah setelah melakukan kebiasaanmu^^.

Iklan