Tag

, , ,

Sebelumnya di Muktamar Muhammadiyah ke-47

Bagian I : https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/20/menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar/

Bagian II : https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/20/menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar-bagian-ii/

“Kak…!!!Kak Achil..!! Kak…Kak AChil..!! Bangunmaki’, sudah jam lima subuh..”

Rasanya saya baru saja menenggelamkan diri menyatu bersama kasur hotel. Bahkan belum sempat bermimpi malahan.

“ Kak.. Bangunmakie’. Terlambatmi orang..!! Kak…!! Kak Achilll….” Kali ini Achi kembali membangunkan sambil mengguncang-guncangkan tubuh saya.

Saya membuka membuka mata. Mengulat, meregangkan otot sejenak, lalu memaksakan diri untuk duduk. Saya menguap sambil mengerjap –ngerjapkan mata mengumpulkan kesadaran.

Achi menggerutu, mengumpat diri sendiri karena kebablasan tidur. Sambil mengenakan kemeja, langkahnya mondar mandir, sementara tangannya sibuk mengumpulkan tumpukan kertas  dan menjejalkannya begitu saja ke dalam ransel.

Saya melirik jam.  Sontak sepersekian detik kesadaran saya pulih. Dalam satu kali lompatan sayameraih ransel, serampangan  mencari kotak perlengkapan pribadi, dan melesat secepat mungkin ke kamar mandi.

Sikat gigi, facial foam, deodorant.

Tiga benda Pertolongan Pertama Pada saat Kepepet (P3K) , kembali menyelematkan saya subuh ini.

Kurang dari sepuluh menit saya sudah rapi, berlari menuju lift. Achi sibuk berkoordinasi via telfon. Memastikan semua tim telah standby di depan hotel masing-masing. Kami berlari kecil menuju parkiran. Sedikit ngebut, Achi mengantarkan saya menuju hotel Gladiol.

Peserta sementara sarapan, saat saya tiba di hotel Gladiol. Sembari melemparkan senyum, saya berbasa basi menanyakan  apakah tidur mereka cukup nyenyak atau tidak.

“ Ternyata di Makassar masih ramadhan toh mas. Ini kita nyampe nyampe’, langsung disuruh sahur. Sarapannya pagi pagi buta kayak gini toh..” seloroh seorang Ibu paruh baya dengan logat Jawa yang medok.

Peserta lain tersenyum menimpali. Mau tidak mau saya ikut tersenyum.

Saya mengambil barisan di antrian sarapan. Masih ada satu bus yang belum datang. Masih tersisa waktu untuk beberapa sendok nasi goreng sebelum beraktifitas hari ini.

Usai sarapan, saya bergabung bersama Aswar yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa supir bus lainnya yang menunggu di parkiran.

 “ Wa’, bus yang satu posisinya sudah di mana?”

Aswar menoleh, tersenyum pahit.

“ Masih sekitaran jalan perintis bede’. Barusan Mas Slamet telfon”

“ Hmm. Untung masalah koordinasi transportasi langsung dihandle sama tim Surabaya, bukan dengan tim kita di’ “ saya mengela nafas. Menghirup udara subuh sebanyak banyaknya.

“Kalau misalkan kak Achi yang handle transportasi, tidak mungkin juga mau pakai bus selain bus pariwisata.’kak. Kalau bus pariwisata, ndak pernah ngaret. Mereka standby terus malah”

 

Saya diam mencerna.  Selama ini saya berpikir , semua bus yang membawa rombongan tour adalah bus pariwisata. Bahkan terkadang saya mengernyitkan kening ketika berpapasan dengan salah satu bus pariwisata yang isinya hanya segelintir orang.

Jika dalam satu bus pariwisata bisa memuat 20-30 orang, mengapa tidak menyewa beberapa empat sampai lima unit mobil saja? Ilmu matematika saya segera berhitung sekian detik. Cukup menghemat sekitar 40%  jika mereka harus menyewa satu unit bus .

Lebih nyaman, dan lebih leluasa membawa kendaraan kemana-mana. Meskipun kurang praktis karena rombongan harus terpisah.

“ Tidak sembarangan kendaraan ‘kak yang bisa mengantar tamu tour. Bus pariwisata sudah itu sudah terbiasa mi’ disiplin. Mereka paham betul, kalau tamu mau maksimalkan waktu mengunjungi tempat sebanyak mungkin yang mereka bisa kunjungi”

Saya merogoh  saku jeans. Menyulut sebatang rokok, lalu kembali menyimak penuturan Aswar.

“ Kalau supir bus pariwisata, sudah di luar kepala mereka, para tamu mau dibawa kemana. Mulai dari  tempat rekomendasi khusus kuliner, belanja, oleh-oleh, wisata, tentu mereka paham mi. Tidak pakai kesasar lagi” tandas Aswar.

Nyaris setengah jam, kami mengobrol. Obrolan berakhir ketika bus  yang kami tungggu akhirnya tiba. Subuh telah berganti pagi ketika semua bus telah terisi penuh oleh peserta dari hotel Gladiol dan Capital. Bus yang lain telah berangkat lebih dulu menuju lapangan Karebosi.

Antrian Bus di Gerbang Lokasi Pembukaan Muktamar, Jl. Ahm. Yani, Makassar

Selama perjalanan saya menyempatkan mengobrol dengan supir bus.

“ Aihh,, kurang sekali tidur ini ‘Pak. Sejak semalam bolak balik bandara menjemput rombongan.” Pak supir mengeluh atas kekurangan waktu istirahatnya.

“Sama jaki’, Pak. Tapi kan sebanding ji ‘ lah rezekinya untuk istri dan anak ta’ di rumah toh? Hehe..Jarang kegiatan seperti ini di Makassar. Kapan lagi?”. Saya mengucapkan hal serupa untuk mengumpulkan diri sekaligus.

“ Iye , lumayan ji memang lah Pak. Banyak lembur lemburnya. Ini saja, setelah sampai, harus ka’ lagi ke UNISMUH, jemput rombongan lainnya” ujar sang supir sambil sumringah.

“ Loh, Tidak terlambat ji’ itu? Kenapa bukan yang lain. Tidak dibagi-bagi kah ‘Pak? Apalagi pasti macet sebentar.” Saya menoleh sejenak, mengalihkan perhatian dari jalan yang kami lalui.

“ Tidak dibagi ‘Pak. Pokoknya siapa yang sudah selesai langsung segera jemput rombongan yang lain” tandasnya.

Ternyata benar. Masalah transportasi dan mobilisasi peserta akan menajdi PR besar untuk pelaksanaan Muktamar kali ini.

Lalu lintas mulai padat ketika kami tiba di lokasi. Tentu saja beberapa arus lalu lintas harus dialihkan.

Untung saja bus yang mengantar rombongan masih bisa merapat hingga ke gerbang, untuk menurunkan peserta rombongan.

Sebelum berpisah, saya memberi arahan kepada peserta dan supir bus untuk bertemu di depan Monumen Mandala, sekitar pukul 13.00, tepat ketika acara diperkirakan selesai.

Acara pembukaan masih sekitar 3-4 jam lagi. Saya menyempatkan diri mengintip ke lokasi pembukaan sebelum bergabung kembali dengan tim yang telah menunggu untuk kembali ke Hotel.

******

“Kak, bagaimana catering, siapmi? Ada perubahan rencana, rombongan sudah bisa meninggalkan lokasi sekarang. Kalau bisa pas sampai di hotel, lunch box nya mereka sudah standby”

Achi baru saja mengabarkan perubahan rencana. Lunch box harus ready satu jam lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

“Loh, bukannya jam satu saing yah, ‘Ci’?”

“ Tidak tau juga ini’ kak. Banyak peserta yang sudah mau pulang. Ini semua tim dalam perjalanan menjemput rombongan”.

Saya menyempatkan berpikir sejenak. Penasaran apa yang terjadi di lokasi pembukaan Muktamar. Apakah rangkaian acara telah selesai atau ada hal lain. Atau mungkin saja tim Penggembira rombongan kami sudah bosan lalu memutuskan untuk pergi.

Tapi, bukan berarti karena rasa bosan kita bisa pergi begitu saja, kan?

 

Dihari kedua, kami melakukan rolling. Achi turun ke lapangan handle peserta, dan saya ditarik mundur di lini belakang untuk langsung mengurus catering.

Saya kembali berpikir kemungkinan lain. Bisa saja peserta tim penggembira ini memang kebosanan dan tidak ada kepastian yang jelas, sehingga mereka memutuskan untuk pulang.

Yah, siapapun yang bosan menunggu ketidakpastian ber hak untuk pergi. 

Setelah menerima instruksi, saya kembali ke tim catering saya. Mencoba kalkulasi waktu.

“ Satu jam lagi, makanan sudah harus siap. Ada perubahan rencana, jam dua belas semua sudah harus diantar ke hotel” Saya berteriak ke tim yang sementara sibuk mengolah bahan.

“ Ih, ndak dapatki itu. Sekarang saja jam 11 mi. “ Ujar Madam, panggilan khusus saya ke koki utama.

“ Begini saja, Madam. Kita fokus dengan makanan utama dan bumbu. Garnish dan packing biar yang lain selesaikan. Selesaikan mi masakanta’ ”

Sejenak mereka berhenti, seolah menunggu instruksi selanjutnya.

“Ino’, panggil tetangga dulu, tiga-empat oranglah untuk bungkus sayur dan buahnya”  Ujar saya ke salah satu karyawan.

Ino’ langsung bergegas. Saya segera membuka sepatu dan kemeja, berganti dengan celemek. Kali ini mau tidak mau saya ikut terjun langsung untuk menggenjot kerja tim.

“Oh iya, ‘Pak. Setiap selesai dipacking ke dalam kantongan, langsung angkut ke mobil saja”

Saya member instruksi kepada tiga orang supir yang ikut ke lokasi catering siang itu. Sengaja kami membawa tiga unit mobil, agar lunch box bisa diangkut sekaligus tanpa harus bolak balik.

Tenaga ekstra telah tiba. Saya memberi arahan singkat ke mereka. Silahkan bantu apa saja, selain bumbu dan menu utama tentunya. Hanya saya dan Madam yang bisa menyentuh kedua hal tersebut. Tentunya ini untuk menjaga kontrol makanan kami.

Handphone saya tidak berhenti berdering. Aswar dan Achi bergantian menanyakan kesiapan catering. Mereka mengabarkan sebagian peserta telah menuju ke hotel untuk istirahat.

Untungnya setiap kali menelfon, Achi selalu bertanya tanpa nada panik. Otak saya tetap bisa fokus mengontrol tim catering. Meskipun begitu, nyaris setiap lima menit saya melirik kea rah jam dinding.

“ Inoo….. Tolong cari tambahan dua tenaga lagi!! Harus lebih cepat”. Teriak saya.

Ino bergegas. Tidak cukup lima menit, dia telah kembali bersama dua orang ibu paruh baya. Sepanjang saya memimpin catering, belum pernah saya menggunakan tim sebanyak ini. Bahkan dengan jumlah pesanan yang lebih banyak.

Apalagi kali ini secara tiga hari berturut-turut, dua gelombang setiap hari nya. Makan siang dan makan malam. Masing-masing maksimal hanya tiga jam, sebelum makanan sampai di tangan konsumen. Tentu saja ini untuk menjaga kesegaran menu.

“ Cil, sisa sambelnya ini. Tapi tidak dapat waktunya, minimal 40 menit baru bisa masak bumbunya, bukanmi masalah jumlah tenaga ini, masalah waktu  nya. ” Ujar Madam meminta pertimbangan.

“Plan B, Madam. Sambal Dabu-Dabu.”  

Madam mengangguk, kembali fokus mengolah bumbu.

Mobil pertama telah terisi penuh. Saya memberi selembar catatan kepada sang supir, untuk mengantarkan lunchbox, untuk dua hotel yang berbeda.

Tim kembali sibuk. Suara blender, spatula dan wajan, desis suara bumbu tumisan, hanya itu yang sempat terdengar untuk beberapa saat. Saya mencoba berseloroh untuk mencairkan suasana.

Satu jam berikutnya, mobil kedua berangkat. Sama halnya dengan mobil pertama, saya memberi secarik kertas jumlah pesanan yang harus didrowp, untuk dua hotel yang berbeda.

Selang beberapa waktu, handphone saya tidak berhenti bordering. Mulai dari Achi yang terus memantau perkembangan persiapan lunchbox, hingga dari supir yang sempat kebingungan menemukan alamat hotel.

Ternyata betul apa yang dikatakan Aswar, tidak sembarangan yang bisa menghandle tamu. Supir saja masih kebingungan mencari alamat hotel, padahal telah dibekali dengan alamat.

Satu setengah jam berikutnya, semua lunchbox telah diantarkan hinga ke hotel terakhir. Beberapa tamu sempat mengeluh,  atas keterlambatan makan siang mereka. Untung saja dengan alasan macet, mereka bisa memaklumi.

Perjalanan menuju hotel pun mereka sempat mengalami macet yang cukup lama.  Saya segera meminta kesediaan mereka untuk segera menikmati santap siang lalu beristirahat. Waktu kita tidak banyak

Sebentar sore kita akan menikmati senja di pantai Losari. Tentunya sebelum itu mereka akan kami ajak untuk mengunjungi pusat perbelanjaan oleh- oleh di jalan Somba Opu.

Mendengar hal demikian, mereka kembali sumringah. Bahkan beberapa peserta meminta agar langsung berangkat saat itu juga.

“Yah, wong sabar toh ‘Bu. Mending istirahat untuk kumpulkan tenaga. Entar sore kita ujian mental. Kuat mana ilmu tawar menawarnya Ibu’, dengan yang penjaga toko oleh oleh yang ada di Jalan Somba Opu”

“Boleh ‘Mas. Liat yah kalau sebentar saya yang menawar. Penjualnya pasti langsung minta tutup toko” Kilah seorang Ibu paruh baya. Sejenak saya mengingat. Oiya, beliau yang semalam sempat dongkol berat di Bandara.

Peserta yang lain ikut berseloroh . Saya sampaikan, Pukul 15.30 kita berkumpul lagi depan hotel untuk City Tour. Hampir semua peserta tidak sabar menunggu.

Saya bergegas kembali menuju Aswin inn Hotel. Briefing untuk planning selanjutnya.

Saya tersenyum sambil geleng geleng kepala mengingat kejadian barusan. Yang jelas saya berhasil membuktikan satu teori klasik.

“ Jika wanita marah, tidak perlu membujuk terlalu lama. Cukup ajak dia berbelanja”.

Iklan