Tag

, ,

Berkecimpung di dunia komunitas Makassar beberapa tahun terakhir, membuat saya sering bertatap muka dengan pemuda yang satu ini. Entah di salah satu kegiatan komunitas, atau di beberapa tempat nongkrong komunitas yang ada di Makassar.

Sebelumnya bahkan saya belum sempat mengenal nama. Hanya karena sering bertemu muka, kami saling melempar senyum dan bersalaman.

Saya mulai mengenal namanya, ketika teman-teman dari komunitas Pajappa, membawa segudang cerita dan pengalaman dari kegiatan Kemah Bakti. Kegiatan yang dilaksanakan secara bersinergi dengan komunitas lainnya.

“Ian 1000 Guru”. Begitu acapkali mereka menyebut nama Ian.

Pasca Kemah Bakti dan menjelang Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2015, kami semakin sering bertemu. Sekali lagi hanya saling senyum dan salam, tanpa basa basi lainnya. Setidaknya saya sudah memiliki nama lain yang bisa saya ingat dari komunitas 1000 Guru, selain nama Nunu’, sang juru catat kegiatan PKM 2015 tentunya.

Saya masih ingat ketika PKM tahun 2014, sering menjodohkan Nunu dan Ai’ dari komunitas Stand Up Indo Makassar. Kiprah mereka sebagai MC yang cukup kompak, tidak hanya saya, namun nyaris semua teman teman PKM ikut men”jodoh-jodoh”kan kedua mahluk mungil itu.

Meskipun tentu saja itu hanya sebatas candaan, namun sifat usil tidak pernah bisa menghentikan kami untuk mengusik keduanya. Lucu saja melihat wajah keduanya merona malu.

Awal terbentuknya kepanitiaan PKM 2015, ternyata candaan tersebut masih berlanjut. Tidak hanya sebatas Line group, bahkan ketika bertemu langsung, saya masih sering mengolok-ngolok Nunu’.

“ Halo Nu’ , apa kabar? Mana kk ai’ kecil iniee?? Jadianmi kah??” .

Sambil melirik usil, saya menyapa Nunu. Saya memberi kode mata kepada Ian yang sering datang bersamanya. Mengajak kompak untuk menjahili Nunu’.

Nunu’ hanya tertawa masam. Ian cengengesan.

Kejadian tersebut berulang, dua hingga tiga kali seingat saya. Sampai suatu saat gosip yang ternyata sudah lumayan basi, baru sampai ke telinga saya.

“ Hah..??!! Ohhh…?? Mampus..!!” hanya itu reaksi yang sempat terlontar saya ketika mengetahui bahwa ternyata Nunu dan Ian selama ini telah menjalin hubungan yang “istimewa”.

Pertemuan berikutnya saya menghentikan kekonyolan saya. Sambil cengengesan saya bertanya ke Nunu’

“Ohh,, yang itu mi kah, Nu’ selama ini? Kenapa ndak bilang bilang? Tidak enak ku ini sama Ian, masih sering ganggui ko’ dengan Ai’” sesal saya.

“Hahaha,, tidak ji ‘ kak. Santaimaki’ . Kak Ian juga tauji kalau itu sekedar lucu-lucuan saja”. Nunu menjelaskan bahwa Ian tidak serius menanggapi hal seperti itu.

Bagaimanapun saya masih merasa tidak enak. Semoga saja ucapan Nunu’ benar adanya.Semoga saja Ian tidak mengambil hati candaan saya selama ini. Maafkan saya Ian.

*****

Berikutnya, berada dalam satu wadah Kelas Menulis Kepo, membuat saya dan Ian semakin sering berinteraksi. Setiap kali ada tulisan yang baru saja dipost ke blog masing-masing, link tulisan di share ke group line. Tidak terkecuali tulisan Ian.

Tulisan pertama Ian yang saya baca berisikan “curhat” seorang kekasih yang merasa diduakan oleh kesibukan pasangannya mengurus segala hal tentang PKM. Untung saja PKM hanya sebuah kegiatan. Tidak terbayang jika PKM adalah sosok seorang pria.

Melalui gaya tulisan yang lugas dan mengalir, Ian menyampaikan protes kepada sang kekasih bahwa sebagai pasangan dia juga butuh hak untuk diperhatikan, apapun kesibukan pasangannya. Meskipun pada dasarnya Ian mungkin seorang tipe pasangan yang tidak terlalu memperdulikan hal seperti itu.

Ian berhasil menggiring ke dalam romantisme kecemburuan, ketika saya membaca tulisan tersebut.

Lain lagi dengan gaya tulisan kritisnya. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika seorang pemuda menyampaikan apa yang ada dalam pikiran mereka dengan meluap-luap, kritis, dan terkadang terlalu tajam.

Saya sama sekali “belum” menemukan hal demikian dalam tulisan Ian. Ada beberapa yang disampaikan secara kritis, tapi dimulai dengan hal yang logis. Intip saja tulisan “ Etika Mahasiswa Masa Kini dan Proses Kaderisasi”.

Siapapun yang membaca ini, khususnya mantan mahasiswa yang masih sempat mengecap kaderisasi dan senioritas, mau tidak mau harus menganggukkan kepala berkali kali ketika membaca tulisan tersebut. Kritis, logis, namun lembut untuk dicerna.

Belum lagi tulisan Ian tentang “Dinamika komunitas Edukasi di Kota Makassar”.

Ian berhasil mengajak kita untuk berpikir sejenak. Benarkah selama ini kita memberi bantuan apa yang mereka butuhkan? Atau kita hanya sekedar menjalankan program komunitas, memaksa mereka menerima apa yang kita inginkan untuk mereka terima, tanpa mengetahui lebih dalam apa yang menjadi kebutuhan mereka?

Apapun itu, sebagai seorang pembaca saya cukup puas dengan apa yang diungkapkan Ian dalam tulisannya. Ada beberapa pandangan dan pemikiran yang nyaris sama. Dan Ian sudah lebih dulu menemukan cara menyampaikannya. Lebih halus, namun tidak mengurangi “inti pesan” yang ingin dia sampaikan.

Oh oiya, belakangan saya baru tahu, bahwa Ian juga ternyata seorang dosen di salah satu Universitas di Makassar.

Sebenarnya ada dua orang yang bernama Ian  dikelas menulis kepo. Keduanya sama sama pria. Keduanya juga sama-sama dosen. 

Untuk membedakan, menyontek dari istilah teman-teman, kami menyebut mereka “ian yang punya pacar” dan “Ian yang tidak punya pacar”.

Semoga “Ian yang tidak punya pacar” segera punya pacar, dan “Ian yang sudah punya pacar” segera berubah menjadi “ Ian yang sudah punya istri”.

Terakhir pesan untuk Ian. Jika “Ian yang sudah punya pacar” akan mengubah status menjadi “ Ian yang punya Istri”, harusnya Ian tahu pada siapa dia harus mempercayakan urusan tekhnis pernikahannya. ^^

“Tulisan ini dibuat dalam rangka review blog sesama peserta kelas menulis kepo. #BatuSekam , Baku Tulis Senin Kamis”

Iklan