Tag

, ,

Berawal pada suatu siang yang terik, di salah satu tempat “hang out” bernama Point House, yang terletak di jalan protokol AP. Pettarani, Makassar.

Kami baru saja briefing final persiapan wedding yang akan kami tangani beberapa hari ke depan.

“ Oh iya kak, awal agustus saya punya rombongan tour dari luar kota. Selama tiga hari. Bisaki’ ikut terjun bantu handle tamu..? Tournya juga palingan dalam kota ji’ “. Ujar Achi, salah satu tim yang ikut hadir pada saat itu. Saya mengajaknya sebagai freelance dalam Wedding Organize saya kali ini. Tentu saja diluar pekerjaan utamanya sebagai orang yang berkecimpung dibidang tour dan travel.

“Masalah honor, janganmaki ragu. Minimal sama lah dengan honor saya sebagai freelance di Wedding Organize ta’..hahahah..” Seloroh Achi, mencoba meyakinkan saya.

Saya berpikir sejenak. Ini bukan hanya mengenai honor. Tour travel merupakan hal yang baru sama sekali bagi saya. Saya sendiri sampai saat ini belum paham, apa yang menjadi pertimbangan Achi untuk mengajak saya bergabung di tim “Feelindo Tour & Travel” yang dipimpinnyanya.

Memuaskan orang dibidang jasa tentu saja bukan hal yang mudah. Terlebih jika kita belum memiliki pengalaman sama sekali.

“Hahahahha..jadi ceritanya kau balas dendam ini yah Achi’, masalah honor,,??” Saya berkelakar, sambil mengulur waktu berpikir sejenak.

“ OK,,DEAL…!!! Saya siap bergabung..” Segera saya meraih dan menjabat tangan Achi yang masih menari lincah di atas keybord notebooknya. Achi hanya mendengus kesal, kesibukannyasedikit terganggu.

Saya kembali menyibukkan pikiran dengan pengalaman baru yang akan saya temui nantinya

******

Nyaris dua menit saya membiarkan gadget saya bergetar, saya melirik sekilas, memperhatikan notifikasi yang muncul di layar home. Tanggung, saya melanjutkan pekerjaan saya.

Instruksi tambahan dari Achi ternyata. Dia ingin dinner dan lunch box peserta tour sekalian dihandle oleh catering saya. Setelah menghubungi Achi kembali dan memastikan menu, imajinasi saya mulai membuncah.

Saya sudah memiliki bayangan awal, minimal sekitar 450 orang jumlah tamu kali ini. Bahkan dengan memperhatikan jadwal pengatantaran catering, sudah bisa tertebak, jadwal kedatangan mereka di Makassar tidak bersamaan.

******

“Ok, jadi ini lembaran itenary peserta selama mereka di Makassar. Silahkan dibaca dan silahkan bertanya jika masih ada yang kurang jelas”

Achi baru saja memulai briefing , tepat ketika saya menghempaskan tubuh di atas sofa empuk, di lobby Aswin Hotel, salah satu hotel bintang tiga yang terletak di jalan Boulevard Makassar. Saya memperhatikan dengan seksama lembaran itenary yang dibagikan kepada tim kami sore itu.

Finally, saya sudah memiliki sedikit gambaran jelas. Selain jumlah peserta sekitar 450 orang, mereka juga tersebar di tujuh hotel bintang tiga di Makassar. Aswin inn Hotel, Trisula Hotel, JL Star Hotel, Max Hotel, Gladiol Hotel, Capital Hotel, dan Raising Hotel.

Untungnya nyaris semua hotel tersebut letaknya berdekatan. Tentu saja ini memudahkan kami dalam hal koordinasi tim. Kecuali Raising hotel yang lokasinya agak jauh dari hotel lainnya.

Saya kembali memperhatikan lembaran itenary. Ada sekitar 17 unit bus plus empat unit Avanza yang akan memobilisasi peserta selama di Makassar.

Jadi yang kita kawal ini Tim Penggembira. Bukan peserta utama Muktamar. Jadi kita sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan panitia lokal Muktamar” Ujar Achi melanjutkan briefing.

Total keseluruhan tim kita sepuluh orang. Lima orang dari Makassar dan lima lainnya dari tim travel Surabaya. Tim dari Surabaya baru tiba sebentar malam

Saya segera mengalihkan pandangan, mencari jawaban dalam perkataan Achi barusan. Belum habis keterkejutan bahwa ternyata ini kegiatan Muktamar, sekarang saya terpaksa mengerutkan kening. Bagaimana mungkin mengawal 450 orang dengan “hanya” sepuluh orang?

Tenangmi kak, diantara sepuluh orang itu, hanya kak Achil yang bukan orang travel. Selebihnya orang yang telah berpengalaman mengawal tamu ratusan tamu.” Achi berbisik lirih menyadari keterkejutan saya.

Tapi itu riskan Achi’. Bagaimana kalau…” saya berusaha menyela.

Tenangmi kak, kita tidak punya waktu untuk berdebat. Ingat kak, satu komando..” Achi menghentikan perdebatan.

Whatever ‘Ci. You Boss nya kali ini..” . Saya mengalah dan memilih mengikuti alur. Achi tersenyum puas.

Tugas pertama saya, memastikan check in peserta ke beberapa hotel, sehingga tepat ketika peserta tiba di hotel masing-masing, mereka langsung bisa beristirahat di kamar tanpa harus direpotkan dengan urusan administrasi sebelum check in.

Urusan administrasi selesai. Saya beserta dua orang lainnya, Asep dan Aswar bergegas menuju bandara. Malam ini kami akan menjemput kedatangan peserta dua gelombang sekaligus. Gelombang pertama tiba pukul 19.30, sedangkan gelombang ke dua diperkirakan tiba pukul 20.10 WITA.

Dengan sedikit tergesa-gesa kami berlari menuju terminal kedatangan Bandara International Sultan Hasanuddin. Masih menyisakan 15 menit sebelum kedatangan gelombang pertama.

Bandara Sultan Hasanudiin terlihat sibuk.Ratusan orang memadati terminal kedatangan. Setiap jarak sekian meter terdapat rombongan tamu dari kota lain.

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sekilas saya membaca spanduk bertuliskan “ Selamat Datang Peserta O2SN di Kota Makassar”. Sesekali mata saya juga tertumbuk dengan spanduk ucapan “Selamat datang peserta Muktamar Muhammadiyah ke -47 di Kota Makassar”.image(12)

Situasi kepadatan terminal kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin

Wajar Bandara Sultan Hasanuddin terlihat sibuk dari biasanya, tidak hanya satu, tapi ternyata ada dua event nasional sekaligus menunjuk kota yang menuju “Kota Dunia” ini sebagai tuan rumah dari ke dua event tersebut.

Antrian bus memanjang sepanjang gerbang penjemputan lantai bawah , menanti rombongan angkutan mereka. Petugas bandara terlihat hilir mudik dimana mana, memastikan operasional bandara berjalan lancar.

Selang beberapa menit, Achi menghampiri, membagikan “Sign Board” bertuliskan nama hotel masing-masing. Gelombang pertama telah tiba. Kami menanti di gerbang kedatangan. Sesekali meneriakkan nama hotel masing-masing seraya melontarkan senyuman.

Rombongan hotel Gladiol, rombongan hotel Gladiol,,,Silahkan berkumpul tepat di belakang saya..”

Dari depan, nampak beberapa orang menuju ke arah saya, sambil mengacungkan jari..

“Mas..kami ke hotel Gladiol ,, kumpul dimana mas ehh?” Tanya seorang ibu paruh baya dengan logat Surabaya yang kental

Assalamu alaikum Ibu, Selamat datang di Makassar. Silahkan langsung ke belakang saya sambil tunggu peserta lainnya” . Saya menyambut hangat peserta yang baru saja tiba.

image(1)

Mengawal rombongan hotel Gladiol menuju Bus penjemputan.

Tidak jarang saya bertabrakan pandangan dengan Achi. Dia tersenyum geli melihat “keramahan” saya yang mungkin agak berelebihan menurutnya.

Kak,bisa tidak senyumta’ biasa saja. Eneg saya lihatnya hahaha..” Achi menghampiri sambil berseloroh

Loh,apa yang salah. Mereka pasti capek setelah perjalanan udara. Belum lapar. Haruski’ kasih semangat. Kita juga tunjukkan orang Makassar itu hangat dan ramah” saya mengelak dan kembali fokus mencari rombongan.

“ Yaaakk. Hotel Gladiol..hotel Gladiol..silahkan berkumpul di belakang saya, Pak, Bu’. Selamat datang di Makassar.”

Rombongan gelombang pertama telah berkumpul. Saya melirik papan informasi. Pesawat gelombang berikutnya mengalami delay setengah jam. Achi segera memberi instruksi untuk membagikan dinner box kepada peserta yang telah tiba.

Saya bergegas, tidak lupa dengan senyum khas saya malam itu. Kami kemudian membiarkan peserta meregangkan otot sejenak sambil menikmati santap malam mereka.

Setelah rombongan kedua tiba, semua peserta segera diarahkan menuju bus penjemputan . Selama perjalanan, hanya beberapa pertanyaan yang terlontar dari peserta, termasuk jarak tempuh Bandara ke hotel dan jarak tempuh hotel ke lokasi pembukaan Muktamar.

Setelah pertanyaan mereka terjawab, saya menyampaikan informasi bahwa besok kita akan sarapan setelah sholat subuh, dan selanjutnya langsung berangkat dari hotel menuju Lapangan Karebosi yang menjadi lokasi pembukaan Muktamar ke-47.

Hal ini untuk menghindari kemacetan dan peserta dapat diturunkan langsung tepat di gerbang lokasi ketika jalan masih sepi.

Saya menghela nafas lega. Jujur saja saya belum siap untuk menjawab pertanyaan lainnya layaknya seorang “guide” professional. Selanjutnya saya memilih diam. Kembali membiarkan peserta bersantai di atas bus, hinggga tiba di hotel tujuan.

Tim kembali berkumpul di Aswin inn Hotel. Briefing dengan tim Surabaya. Selanjutnya bersiap untuk penjemputan gelombang ke tiga, pukul 00.30 dini hari.

******

Selanjutnya

https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/20/menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar-bagian-ii/

Iklan