Tag

, ,

Pukul 00.15 Wita

Penjemputan rombongan gelombang ketiga.

Kali ini saya, Asep, dan Aswar berjalan santai dari parkiran bandara menuju gerbang kedatangan. Diperjalanan menuju bandara, kami memperoleh informasi dari Mas Slamet- Tim dari Surabaya yang tiba sejak semalam dan standby di bandara-bahwa pesawat yang membawa rombongan gelombang ketiga mengalami delay selama satu jam.

Antrian bus penjemputan mengulat padat. Petugas bandara terpaksa membagi dua pemberhentian bus penjemputan. Di bagian basement, khusus penjemputan bus peserta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional ( O2SN), dan diparkiran atas khusus bus penjemputan peserta Muktamar.

Papan informasi menunjukkan bahwa pesawat yang membawa rombongan gelombang ketiga telah mendarat. Informasi yang kami terima dari Mas Slamet, tim dari Surabaya sampai mem”booking” satu unit pesawat, khusus membawa rombongan kali ini.

Situasi bandara kembali ramai. Gerbang kedatangan dipadati penumpang yang baru saja tiba. Kami kembali mengangkat sign board , dan mencari rombongan sambil meneriakkan nama hotel masing-masing.

Situasi mulai tegang ketika bus yang harus ditumpangi menuju hotel belum juga muncul di gerbang penjemputan. Mas Slamet kelihatan sibuk melakukan koordinasi via telfon dengan koordintor Bus Damri. Mereka menerima instruksi dari petugas bandara , tidak boleh menjemput di gerbang penjemputan dan hanya bisa menunggu di parkiran.

Tim segera mengarahkan peserta menuju parkiran. Ada beberapa yang mengeluh. Bisa dimaklumi mengingat jadwal penerbangan dini hari dan harus berjalan kaki mengangkat kopor bawaan menuju parkiran tentunya cukup menguras tenaga.

Tiga dari lima unit Bus penjemputan telah terisi. Petugas bandara tiba-tiba menghampiri kami.

Pak, maaf, untuk bus ini sama sekali belum melapor untuk penjemputan. Diluar izin, kendaraan ber plat kuning tidak boleh melakukan penjemputan dalam Bandara” sergah mereka

Tapi pak, peserta Muktamar ji ini juga” saya merangkul salah satu petugas dan membawa mereka menepi dari rombongan

Iya pak, cocok itu. Tapi yang bisa menjemput hanya bus yang telah melapor. Kami kena teguran dari atasan. Silahkan ketemu atasan kami dulu” petugas lainnya kembali berkilah.

Ok, sabar pak. Saya selesaikan ini dulu di’, bagaimanapun mereka tamu ta’. Tidak enak kalau terlantar” . Saya mencoba bernegoisasi sambil memutar otak agar tidak terlibat jauh dengan pihak administrasi bandara.

Masih sementara berdiskusi dengan petugas , salah seorang wanita paruh baya menyeletuk.

“ Mas, ini bus yang lain mana? Ini sudah jam berapa dan kami masih di Bandara?”

Mata saya liar mencari Aswar dan Asep. Saya meminta mereka berkoordinasi dengan Mas Slamet yang menangani masalah bus penjemputan.

Tiga bus siap berangkat, dan dua bus lainnya masih belum tampak. Mas Slamet meminta koordinator supir bus untuk segera update posisi terakhir mereka. Tidak sabar saya menghampiri.

Pak,,mana bus yang lain tawwa? Kasian ini tamu, seharusnya mereka sudah menuju hotel”.

“Tadi ada semuaji, Pak. Sempat memang mutar beberapa kali diparkiran. Kita bingung. Parkir di bawah, kita dilarang sama petugas, disuruh ke atas. Di bawah katanya khusus bus Litha Co yang menjemputO2SN. Pas kita ke atas, malah disuruh ke bawah sama panitia Muktamar, katanya di atas khusus “peserta” Muktamar saja.” Keluh pria bertubuh tegap dan berkulit gelap ini.

Tiba-tiba dua unit bus beriringan dari ujung parkiran bergerak menuju rombongan kami. Semoga ini bus yang ditunggu sejak tadi.

Belum sempat menarik nafas lega, bus perlahan mendekat. Dengan kondisi terisi penuh oleh penumpang lainnya. Loh??

Saya menoleh keheranan ke koordinator supir bus. Entah siapa nama beliau. Saya tidak sempat bertanya. Saya hanya menebak dari perawakannya, mungkin beliau berasal dari Timur Indonesia.

Tanpa menjawab, beliau segera menghentikan bus, dan berbincang sejenak dengan para supir bus. Sesekali terdengar beliau menghardik para supir, saking kesalnya mungkin. Selang lima menit, beliau kembali dengan tergopoh gopoh.

“Jadi begini pak, tadi mereka terpisah dari iring iringan bus kami. Tiba-tiba ada yang mengarahkan peserta dari kota lain untuk segera naik bus ini..”

Belum sempat berdiskusi, tiba-tiba ibu tadi kembali menyeletuk.

“ Mas, ini gimana? Acara seperti ini saja kok transportasinya kacau. Di tempat kami, kegiatan seperti ini kecil, Mas!!Masa kota besar seperti Makassar, tidak bisa mengurus seperti ini?!”

PLAKKK !! Seperti tamparan keras, jujur saja. Pelan saya menarik nafas, menghembuskan perlahan. Saya mengajak sang Ibu menepi dan menjelaskan duduk persoalan, bahwa ada kesalahan penumpang bus.

“ Lah, terus gimana, Mas? “

Sabar bu’ yah, akan kami cari solusi secepatnya.” Saya tersenyum meyakinkan. Senyum khas seperti malam sebelumnya.

Ketika perhatian saya teralih, Mas slamet masih sibuk koordinasi via telfon. Aswar dan Asep masih bernegoisasi dengan pihak administrasi bandara.

Seorang anak muda terlihat berbincang dengan koordinator supir bus. Saya segera menghampiri. Ternyata salah satu mahasiswa yang menjadi panitia lokal Muktamar. Masing-masing penumpang di bus, mulai tidak sabar memandang kami.

“ Begini saja pak, antar saja rombongan ku’ dulu, karena sudah terlanjur di atas bus. Nanti masalah bayarannya kita urus belakangan. Gampang,Pak” Ujar pemuda tersebut.

Bagaimanapun telinga saya memerah.

“ Tabe’ bos, ini bukan masalah tamu siapa atau bayarannya bagaimana. Sama sama tamu ta’ semua. Sama sama mengunjungi kota Makassar. Yah kita kasih saja siapa yang punya hak..!!” Saya menyela pembicaraan.

Pemuda tersebut terdiam sejenak. Seolah tidak menghiraukan dia merangkul koordinator supir, mengajak berjalan jauh. Mungkin saja mencoba negoisasi lebih halus. Saya tidak memberi kesempatan, segera menyusul dan mengikuti mereka.

Koordinator supir bingung mengambil keputusan. Saya tidak melepaskan tatapan dan mencari kepastian dari wajahnya.

Di ujung jalan ternyata telah menunggu seorang bapak paruh baya yang belakangan baru saya tahu bahwa beliau juga salah satu panitia Muktamar.

Setelah kooordinasi dengan pihak kantornya, sang koordinator memanggil kembali tiga supir bus yang sempat terpisah. Mereka didamprat habis habisan.

Liat mi ini, ulah mu semua. sejak tadi saya bilang jangan terpisah dari rombongan. Kalau begini justru saya yang kena semprot dari kantor“. Kekesalan sang koordinator akhirnya tertumpah. Untung saja kami jauh dari keramaian, tidak perlu jadi tontonan.

Ke tiga supir hanya diam cengengesan. Wajah mereka merah, malu. Mereka bingung didamprat di depan umum.

sang koordinator supir bus kembali berunding dengan panitia Muktamar.

“ Maaf pak, untuk rombongan bapak, bus nya memang masih dalam perjalanan. Bus ini memang khusus untuk rombongan bapak ini” Ujar sang koordinator seraya menunjuk ke saya

“ Kalau begitu rombongan bapak ini saja yang menunggu bus. Rombongan kami biar jalan dulu, sudah terlanjur di atas bus” Ujar bapak paruh baya tadi

Maaf pak, tamu saya juga tidak mau mi menunggu” saya menyahut segera. Tidak ada waktu untuk saling mengalah kali ini.

“Kalau begitu silahkan suruh penumpang saya turun. Saya sendiri tidak berani. Mereka juga sejak tadi pasti sudah mau cepat cepat beristirahat di hotel.”

Mendengar jawaban tersebut, saya segera meminta ke koordinator bus untuk bersiap-siap. Saya akan coba berbicara dengan rombongan yang sudah terlanjur di atas bus.

Bismillah…

Sambil berlari kecil, saya kembali menuju bus yang masih berjejer rapi. Dengan satu lompatan , saya melalui  tiga anak tangga bus sekaligus.

“ Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam bapak ibu” .

Saya berdiri di dalam bus, di depan penumpang, dengan senyum seramah mungkin. Setelah mereka menjawab salam, saya mengatur nafas dan langsung menyampaikan duduk persoalan

“ Sebelumnya kami ucapkan selamat datang di Kota Makassar, kota para Daeng. Terima kasih sudah berkenan berkunjung. Oh iya maaf sebelumnya, ada kesalahan tekhnis. Bus yang Bapak Ibu tumpangi saat ini adalah milik bus dari rombongan lain”. Saya berhenti sejenak. Bus seperti terisi dengan ribuan tawon, mereka menggumamkan kekecewaan.

“ Berhubung semuanya sama-sama tamu Makassar, kami tidak membeda-bedakan tamu manapun, kami mohon kesediaannya untuk memberi hak atas bus ini kepada rombongan yang telah memesan bus ini terlebih dahulu”. Saya kembali berhenti, tersenyum dan memandang wajah kekecewaan para penumpang.

Untung saja di bus pertama ini , nyaris semua penumpang mengerti dan segera mengangkat barang lalu turun satu per satu.

Saya melanjutkan ke bus kedua. Sang koordinator bus tampak kewalahan menghadapi kekecewaan penumpang . Saya segera naik, dan berbisik kepada beliau.

“ Maaf pak, biar saya pi yang bereskan. Minta mi’ saja sama anggota ta’ untuk bersiap-siap” . Saya mengarahkan sang koordinator untuk bersiap siap dengan supir bus lainnya.

Saya mengulangi apa yang saya lakukan di bus pertama tadi. Sayangnya di bus kedua ini beberapa peserta sulit untuk mengalah.

“Lah terus bus kami mana Mas? Masa iya kami turun, terus menunggu??” Ujar salah satu penumpang

“ Informasi terakhir, katanya bus nya sudah diperjalanan, Pak. Silahkan menunggu dulu. Bus ini sudah ada penumpangnya dan masih sementara menunggu di luar.”

Beberapa penumpang melongok ke luar melalui jendela bus.

“ Loh pak, tapi kami ini peserta utama Muktamar. Mereka hanya Tim penggembira. Harusnya kami diprioritaskan, pagi- pagi kami harus menghadiri pembukaan loh? “Sergah bapak yang tadi, bahkan kali ini sambil berdiri dari tempat duduknya.

Pelan kembali saya menghela nafas. Dari luar jendela terlihat Asep kewalahan menghadapi rombongan kami. Pemilik “tahta” bus sebenarnya.

Saya kembali tersenyum seramah mungkin. Penumpang lain malah terlihat semakin masam

Mohon maaf sekali lagi pak. Tapi bus ini terlebih dahulu telah dipesan khusus oleh rombongan kami. Biar sama sama tidak kecewa, kami harap Ibu Bapak bersedia memberikan hak mereka atas bus ini, mereka bahkan sejak subuh sudah harus ada dilokasi agar bisa mendapat tempat.” Saya kembali mengedarkan pandangan menunggu reaksi.

“ Lalu kami kemana?! Ini gimana sih panitia di Makassar kok gak becus?! Jangan sampai setelah bus ini pergi, kami diterlantarkan begitu saja” Bapak tadi kembali bersikeras.

“Pokoknya kami tidak mau turun, jika belum ada kejelasan bus kami dimana. Kami tidak mau tau, mas ini panitia atau bukan, dari agen travel atau bukan. Yang jelas kami mau bus kami ada..!!” seorang peserta lain dengan setelan parlente ikut berdiri.

Pak, kami bukan panitia yang khusus mengurus rombongan bapak. Kami malam ini ke bandarakhusus menjemput rombongan kami. Dengan bus ini, Pak !!” Tiba tiba dari arah belakang, Aswar ikut berusara, menahan kekesalan.

Saya memberi isyarat agar dia diam, dan membiarkan saya melanjutkan.

“ Insha Allah tidak akan seperti itu, Pak. Kebetulan kami dari agen travel. Panitia yang menjemput bapak ada diujung jalan menunggu bus yang khusus menjemput bapak. Kami akan bantu koordinasi dengan mereka. Sekali lagi dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada seluruh peserta Muktamar yang ada dalam bus ini, saya mohon kesediaannya agar bus ini diberikan kepada yang memiliki hak nya” .
Saya menutup negoisasi, sambil mempersilahkan penumpang turun dengan telapak tangan menuju ke arah pintu bus.

Masih bersungut sungut, perlahan satu per satu penumpang mulai turun. Sembari tersenyum dan meminta maaf, kami membantu mengangkat barang mereka turun dari bus.

” Woalahhh, gak papa kok Mas. Salah kita juga, masa iyo bus orang diserobot” Ujar seorang ibu sambil mengucapkan terima kasih dan berlalu.

Lima unit bus telah terisi penuh. Bus perlahan berjalan beriringan meninggalkan parkiran bandara. Dalam perjalanan sekali lagi saya mengucapkan selamat datang kepada rombongan dan menyampaikan ke mereka bahwa setelah sholat subuh, mereka dipersilahkan sarapan, dan bus akan siap menunggu depan hotel untuk langsung menuju lokasi pembukaan Muktamar.

image(3)

Recharge : setelah meredam ketegangan yang sempat terjadi di Bandara

Saya melirik jam di pergelangan tangan kiri. Pukul 02.30. Artinya mereka hanya punya waktu sekitar satu jam lebih untuk beristirahat setiba di hotel nantinya.

Tidak lupa saya sampaikan, di hotel telah menunggu dinner box yang akan dibagikan bersamaan dengan pembagian kunci kamar. Sebagian terlihat tidak peduli, terbawa kantuk, sebagian tersenyum. Lumayan pengobat kekecewaan atas keterlambatan malam ini, batin mereka mungkin.

Selama diperjalanan, pertanyaan seputar jarak tempuh dari bandara ke hotel dan dari hotel ke lokasi kegiatan kembali terlontar. Dengan tetap tersenyum ramah, kembali saya menjawab pertanyaan mereka. Selebihnya peserta mulai sibuk dengan kelelahan masing-masing.

Saya meraih gadget, memeriksa notifikasi di layar home. Sebuah pesan dari Achi via line, agar berkumpul kembali di Aswin inn Hotel, untuk koordinasi selanjutnya.

Saya melirik melalui spion bus. Nyaris semua penumpang terlihat lelah menahan kantuk. Tidak lama  mereka larut dalam tidur masing-masing.

Saya membayangkan kesibukan panitia lokal Muktamar kali ini. Kami saja yang hanya mengawal Tim Penggembira, mulai kerepotan. Tentu saja untuk kegiatan Nasional seperti ini, kesalahn tekhnis tidak dapat dihindarkan.

Saya berpikir, sempat membenarkan, apakah Makassar belum siap untuk kegiatan nasional seperti ini?

Masalah koordinasi, administrasi dengan petugas bandara, kesigapan panitia jika terjadi delay pesawat, kesiapan armada transportasi.

Saya segera mengalihkan pikiran. Mencoba rileks dan memejamkan mata, mencuri waktu istirahat sebelum berlomba dengan sang Fajar beberapa jam lagi.

*********

Selanjutnya https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/28/bagian-iii-menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar/

Iklan