Kelas sementara berlangsung ketika saya datang.  Kurang lebih dua belas orang duduk melantai dan melingkar sambil diskusi.  Wajah mereka sama sekali tidak asing lagi bagi saya, kami saling mengenal satu sama lain. Mereka hanya menoleh sejenak, lalu kembali fokus pada apa yang disampaikan oleh kedua sosok, Kak Anwar Daeng Jimpe Rachman dan Kak Ipul Daeng Gassing, yang menjadi “pusat informasi” malam itu. Tidak ingin mengganggu jalannya kelas, saya segera mengambil tempat, menyelip diantara peserta lainnya.

Akhirnya,  saya menginjakkan kaki di Kampung Buku setelah beberapa kali hanya nyaris berkunjung. Sedikit berbeda dengan gambaran yang ada di benak saya , ternyata kampung buku adalah sebuah rumah dengan beranda dan bagian samping bangunan utamanya  disulap menjadi perpustakaan mini.  Di berandanya sendiri terdapat dua-tiga unit rak buku, menjulang nyaris menyentuh plafon.  Beberapa meja lesehan terletak  begitu saja, khusus bagi  pengunjung yang ingin membaca lebih santai di ruang terbuka.

Di sebelah kanan beranda, suasana lebih serius. Sebuah ruangan dengan lebih banyak rak buku dan  koleksi di dalamnya, serta meja dan bangku untuk anda yang mungkin menginginkan konsentrasi khusus pada saat membaca.

Kelas saat itu berlangsung di beranda. Mereka menyebut kegiatan ini Kelas Menulis Kepo, bagaimana menyajikan dan menggali  tulisan dengan sedalam dalamnya.  Jujur saja saya kurang begitu paham dan kurang antusias. Kantuk dan lelah terlanjur  menyerang bersamaan akibat beraktifitas seharian penuh. Salah saya sendiri, siang tadi ketika membaca info tentang kegiatan ini di group line, saya terlalu antusias untuk menyampaikan informasi dan mengajak teman teman  Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2015 agar ikut terlibat.

Harapan saya sederhana, euforia dan semua yang terjadi di balik layar PKM 2015 dapat terekam dalam sebuah tulisan.

Sayangnya, antusias mereka masih sebatas group line.  Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau saya harus datang, terlanjur kelihatan antusias untuk kegiatan tersebut.

Pukul 21.30 Wita, dan di sinilah saya, Kelas Menulis Kepo Kampung Buku, setelah memaksakan diri hadir. Menahan kantuk, dan bosan. Sesekali memainkan smartphone, membuka chat dan menyimak pembicaraan group.

Kebosanan masih melanda, mungkin karena saya belum menemukan passion di bidang menulis, meskipun kegemaran utama saya adalah membaca. Dapat dipastikan setiap malam sebelum tidur saya membaca buku apa saja. Kebiasaan yang saya lakoni sejak duduk di bangku SMP. Tidak jarang jika kehabisan buku bacaan, saya berselancar di dunia maya dan menjadi stalker dari tulisan beberapa orang yang ada di hadapan saya saat ini.

Sayangnya saya hanya sebagai penikmat.  Belum mampu untuk membuat tulisan. Menurut saya menulis tidak seperti kegiatan lain yang bisa kita pelajari secara  otodidak. Untuk belajar langsung pun saya mengalami kesulitan. Padahal saya memiliki kenalan beberapa penulis Makassar yang mumpuni.  Tapi hanya sebatas kenal, melalui beberapa kali tatap muka maupun obrolan basa basi di beberapa kegiatan.

Entah kenapa saya selalu mengalami kesulitan dengan orang-orang yang terlibat dengan kesusastraan, khususnya penulis.  Rasanya begitu sulit berkomunikasi dengan mereka. Kecuali untuk obrolan yang bersifat serius tentu saja.

Dalam pandangan saya, nyaris semua penulis yang saya kenal tergolong aneh. Di satu sisi mereka  kadang terlihat serius, kaku dan  sedikit membosankan. Tidak jarang saya menemukan mereka berkumpul dalam satu meja, duduk berjam-jam lamanya,  menatap layar monitor masing-masing , menghabiskan bergelas-gelas kopi, dan tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya.

Di waktu lain saya menemukan mereka berkumpul dalam satu meja, mengobrol ngalur ngidul ke sana kemari, kemudian tertawa terbahak bahak untuk lelucon yang membuat saya bergumam “ Hello every body, bisa bisikkan ke saya di mana letak lucu nya??”

Pernahkan anda berbincang  dengan seseorang dan orang tersebut seolah-olah dapat membaca semua yang ada di dalam diri kita? Anda seperti merasa di”telanjangi”, seolah-olah menjadi tersangka untuk kriminalitas yang tidak pernah anda lakukan. Sungguh tidak nyaman.

Tidak berhenti di situ, saya masih sering bertanya-tanya, mengapa penulis pada umumnya terlihat begitu “Superior”, jika tidak dapat disebut arogan?. Mereka memiliki dunia dan pemikiran  masing-masing. Dan dengan cara mereka pula , kita bisa terbawa jauh dan larut dalam setiap susunan kata  yang mereka rangkai. Pernahkah anda menjadi seorang nara sumber untuk sebuah tulisan, lalu anda kaget sendiri ketika membaca tulisan tersebut? Mereka menceritakannya jauh lebih baik dan lebih klimaks. Iya, mereka seenaknya menyusun kisah yang jauh lebih sempurna seolah olah mereka ikut mengalaminya sendiri.

Bahkan untuk semua pengetahuan dan informasi yang mereka miliki, saya terkadang merasa terintimidasi jika mengobrol dengan mereka. Obrolan tidak akan pernah berlangsung  lama. Saya selalu mencari celah untuk menyudahi obrolan dengan sopan. Sepuluh menit mungkin rekor terlama ketika mengobrol dengan mereka. Yahh, kecuali kami bertemu pada kegiatan tertentu, dan saya  bertugas sebagai MC yang memandu talkshow.

Saat itu saya harus kelihatan tertarik dan memainkan durasi agar acara kelihatan lebih menarik, dan tentu saja agar saya tidak kelihatan tampak bodoh di depan mereka. Untuk bagian ini, saya terkadang was was apakah mereka tahu kalau saya hanya pura-pura tertarik?

Beberapa point di atas selalu menjadi pertimbangan saya ketika ingin belajar menulis. Seperti ada tembok besar antara saya dengan mereka.  Termasuk malam ini, tentu saja  saya datang bukan untuk serius belajar menulis. Lebih karena menghargai ajakan beberapa teman untuk menghadiri kelas  dan terlanjur “kelihatan” antusias untuk mengikuti kelas tersebut.

Materi kelas menulis masih berlangsung, sementara khayalan saya tentang sosok penulis masih mengembara kemana-mana.  Selang beberapa waktu, perhatian saya sontak teralihkan ketika telinga saya samar-samar menangkap apa yang disampaikan kak Anwar”Daeng Jimpe”Rachman , salah satu penulis senior yang juga menjadi pusat informasi malam ini.  “Minimal perlihatkan antusias kalian, kita semua yang hadir di sini sama-sama orang sibuk, banyak kegiatan di luar sana, dan saya khusus datang ke sini untuk berbagi pengetahuan”

Entah mengapa, saya merasa tidak asing dengan kata kata tersebut. Saya yakin, pernah mengucapkan kalimat serupa,tidak hanya sekali. Sungguh tidak nyaman berada di posisi itu. Ketika kita bersusah payah menyisihkan waktu disela sela kesibukan untuk berbagi pengetahuan, meninggalkan tugas utama, berbicara panjang lebar dengan penuh semangat, sementara ketika kita mengedarkan pandangan, yang tertangkap adalah  orang orang dengan tatapan  kosong dan kurang antusias mendengarkan apa yang kita sampaikan? Saya menyebutnya tindakan bejat dan amoral. Orang-orang yang tidak mengargai ilmu pengetahuan. Dan heiii..!! Bukankah saya baru saja melakukannya?

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, untuk memastikan apakah kalimat barusan ditujukan khusus ke saya atau untuk seluruh peserta. Beberapa pandangan masih fokus ke depan, selebihnya sibuk membuat catatan catatan kecil. Tidak ada pandangan aneh yang tertuju pada saya. Saya menghembuskan nafas lega lalu tersenyum kecil.

Berikutnya, seperti yang sudah saya duga.  Kak Ipul Daeng Gassing, yang juga penulis senior Makassar, ( Silahkan baca tulisan tulisan beliau di daengGassing.com )menantang beberapa Panitia PKM 2015 yang hadir di kelas ini untuk membuat tulisan tentang PKM 2015. Tidak tanggung tanggung, tulisan harus selesai dalam kurun waktu kurang dari semingggu.  Sekali lagi penulis itu memiliki “Superior” tersendiri. Apa yang mereka sampaikan seperti sebuah mantra, anda akan melakukan apa yang mereka sampaikan meskipun  anda belum tentu ingin melakukannya.

Setelah mengangguk lemah dan menggumamkan kata “iya..” nyaris tidak terdengar, saya pun langsung membuat blog melalui smartphone saat itu juga. Selebihnya saya tidak fokus lagi mendengarkan materi yang disampaikan. Hingga saat kelas istirahat sejenak dan saya pamit pulang.

*******

Beberapa hari kemudian….

Saya menenggak kopi untuk gelas ke sekian,  sambil melirik jarum jam di tangan kiri. Pukul 03.44 dini hari. Tidak terasa nyaris lima jam saya sibuk dengan layar monitor. Menulis, membaca ulang, kurang pas, hapus, menulis, membaca ulang, kurang pas, hapus , begitu seterusnya dan hanya menghasilkan satu paragraph.

Saya meraih smartphone  dan membuka aplikasi blog, melihat statistic pengunjung. Senyum saya merekah, jantung sepertinya ingin meloncat keluar. Sudah ada 20 an pengunjung. Saya tersenyum geli sekaligus senang. Ada kebahagiaan tersendiri jika tulisan kita dibaca orang lain, terlepas apapun pendapat mereka.

Biasanya setiap tiba di” Teras” ( Kedai ice cream yang saya kelola bersama beberapa teman ), saya akan menyapa pengunjung yang saya kenal, lalu mengobrol dengan mereka hingga berjam jam lamanya. Akhir akhir ini, saya memilih menyapa mereka sejenak , lalu membuka laptop dan berlatih menulis tentang apa saja. Saya hanya tersenyum sumringah ketika salah seorang sahabat saya berkomentar “ berubahnamo kak achil. Jarangmi main main sama kita’, kaku ta’ mi”.

See..?!, bahkan untuk penulis pemula seperti saya langsung terlihat serius dan kaku dimata sahabat saya sendiri.

Secara tidak sadar, saya ternyata asyik dengan dunia baru. Menemukan kebebasan berekspresi dalam bentuk lain. Ketika saya ingin berteriak tapi takut terdengar , ketika saya sedih tapi takut kelihatan cengeng. Atau ketika saya bahagia, ingin melompat ke sana kemari tapi takut kelihatan kekanak kanakan. Saya menumpahkan semuanya ke dalam tulisan, dan sedih, senang, bosan, atau tentang apa saja, tanpa perlu takut apapun.

Tulisan pertama saya telah dipublish kemarin, setelah melalui proses asistensi yang menurut saya lebih mendebarkan dari asistensi skripsi sekalipun. Seperti juru masak yang menyerahkan masakan pertamanya  ke chef , seperti tukang jahit yang menyerahkan hasil jahitan pertama nya ke designer handal.  Dua puluh menit yang mendebarkan, setelah asistensi ke Kak Ipul Daeng Gassing dan Kak Lelaki Bugis, masih banyak catatan merah secara tekhnis, selebihnya saya diarahkan untuk terus menulis agar kemampuan terus terasah.

Saya membuka obrolan line group “kelas menulis kepo”. Beberapa link tulisan telah dilempar sebelumnya. Hampir di setiap tulisan kami terseret, larut , lalu secara tidak sadar seperti berada di bawah pengaruh mantra, kami berlomba untuk membuat tulisan.  Bahkan ada yang membuat dua tulisan sekaligus !! Sayangnya kami menikmati ini, meskipun masih banyak pekerjaan lain yang harus rela jadi prioritas kedua.

Ini tulisan kedua saya, setelah sebelumnya sudah ada dua draft yang menunggu untuk diselesaikan. Salah seorang teman di PKM2015 juga bahkan ikut berjanji akan menyelesaikan tulisannya minggu ini, padahal dia belum sempat mengikuti kelas menulis kepo. Entahlah, semoga dia tidak melihat saya sebagai “Superior” yang membacakan mantra.

Berawal dari ucapan kak Anwar Jimpe Rachman, “Minimal perlihatkan antusias kalian, kita semua yang hadir di sini sama-sama orang sibuk, banyak kegiatan di luar sana, dan saya khusus datang ke sini untuk berbagi pengetahuan” , saya beruntung sempat mengikuti kelas ini tanpa dipungut bayaran sekalipun. Seharusnya kelas seperti ini dibuat lebih exclusive dan terbatas, biar orang orang seperti saya tahu bahwa semua orang ahli di bidang masing-masing, dan butuh pengorbanan khusus untuk mendapatkan pengetahuan mereka.

Oiya, satu kemajuan besar..!! Sekarang saya sudah satu group dengan para Superior, meskipun komunikasi kami masih terbata-bata. Terkadang saya malah jadi silent reader atau ikut nimbrung sekali kali jika perlu.

Semoga saja saya masih terus di bawah mantra mereka.

Iklan