Musik hutan 2015, Tamparan Untuk Penikmat Alam Yang Serampangan.

Tag

, , ,

Perhelatan Musik Hutan 2015 baru saja usai. Tahun ini merupakan tahun kedua dari event tersebut.

Mendengar  tentang Musik Hutan, yang terlintas di benak kita mungkin menikmati suguhan musik secara live di tengah hutan. Duduk di depan tenda camp, beratapkan langit malam yang bertabur bintang. Sesekali mungkin mengobrol dengan orang yang duduk di samping kita dengan segelas kopi hangat yang masih mengepul di tangan masing-masing.

Setelah tahun lalu belum sempat menghadiri kegiatan ini, tahun ini saya berkesempatan menyambangi perhelatan tersebut.  Tepat menit-menit terakhir saya bersama ketiga rekan berhasil mengantongi tiket, yang beberapa hari sebelumnya  sudah terjual habis.

Kami membeli tiket dari teman yang terpaksa berhalangan hadir, dengan harga miring pula.

Harga tiket bervariasi, mulai dari kelas festival senilai Rp.200.000,- dengan fasilitas menginap di tenda barak yang telah disediakan panitia dan dapat menampung puluhan peserta sekaligus. Atau peserta dapat membawa tenda sendiri dan memanfaatkan space yang tersedia.

Tiket VIP  sendiri senilai Rp. 2.000.000,- untuk empat sampai lima orang seingat saya,  dengan fasilitas penginapan villa yang letaknya tidak berjauhan dari lokasi kegiatan.

Setelah menempuh jarak sekitar 70 Km dari kota Makassar, akhirnya kami tiba di lokasi kegiatan. Tepatnya di desa Bengo-bengo, kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.  Lokasi kegiatan Musik Hutan 2015 ini  merupakan kawasan Hutan Pendidikan UNHAS.

Rombongan saya tiba sekitar pukul 21.20 Wita. Beberapa rangkaian acara tentu saja telah terlewatkan.

Puluhan tenda memadati lokasi camp yang berkontur landai ini. Area panggung  terletak di daerah paling rendah, sehingga kita dapat menikmati suguhan acara dari segala sisi.

Panggung Musik Hutan 2015

Panggung Musik Hutan 2015

Panggung kegiatan ini  hanya beralaskan rumput, tanpa level atau mini stage. Untaian kain bermotif beragam  warna begitu apik ketika terkena sorotan dekorasi bola-bola lampu yang diletakkan begitu saja di atas rumput.  Sederhana sekaligus sangat artistik.

Ketika mengedarkan pandangan ke sekeliling lokasi, beberapa untaian lampu kecil menjuntai dari batang pohon tinggi, melintasi atap tenda para peserta. Di beberapa titik khusus, juga dipasang lampu yang telah didekorasi sedemikian rupa, tidak hanya untuk penerangan, tapi sekaligus menambah suasana sendu di lokasi Musik Hutan.

********

Baru saja selesai mendirikan tenda badai -sejenis tenda yang biasanya digunakan untuk nge camp dengan alas persegi, dan mengerucut sampai ke puncak tenda dengan kapasitas mulai dari dua hingga enam orang – kami dihentakkan dengan suguhan musik aliran rock alternative. Tidak hanya satu performance, tapi beberapa performance nyaris menyuguhkan aliran  musik yang serupa.

Jejeran Tenda Peserta di Musik Hutan 2015

Jejeran Tenda Peserta di Musik Hutan 2015

Kekecewaan saya tentang Musik Hutan berawal dari sini.

“Terlalu hingar untuk sebuah liburan di tengah alam” ungkap salah satu teman.

Tidak ada bedanya dengan menonton konser musik di tengah kota. Hanya berpindah tempat.

“ Mungkin sengaja ‘kak, menampilkan seluruh aliran musik, setiap orang kan seleranya beda”. Hibur salah satu teman saya yang lain.

Tidak ada salahnya dengan alasan yang terakhir. Hanya saja, mungkin nyaris semua peserta yang hadir pada perhelatan tersebut, justru sengaja datang untuk menepi sejenak dari keriuhan kota.

Untungnya kegiatan ini dipandu dua orang MC yang lumayan mumpuni sebagai  entertainer.  Mereka idak hanya cerdas, tapi piawai membuat lelucon konyol yang memancing riuh tawa penonton.

Jika biasanya dua orang MC memainkan komposisi, satu sebagai type “Pemancing” dan satunya sebagai “Pemakan Umpan” , beda dengan duet MC Musik Hutan kali ini.

Mereka kompak menjadi pemancing dan justru menjadikan beberapa penonton sebagai pemakan umpan.

Tetap dengan lelucon yang ringan, meskipun sedikit vulgar namun tidak dimainkan secara gamblang, nalar penonton selalu terpancing dengan sendirinya.

Malam pertama kekecewaan saya sedikit terobati dengan penampilan Ska With Klasik. Salah satu band indie beraliran ska ini, berhasil mengajak penonton ikut bernyanyi dan bergoyang. Bahkan beberapa tamu bule’ yang hadir pada malam itu tanpa segan ikut bergoyang di depan area panggung.

Meskipun beberapa lagu terdengar sedikit hingar, penonton masih dapat menikmati performance mereka. Beberapa lagu sudah akrab di telinga sehingga mau tidak mau, penonton termasuk saya ikut berdendang. Khususnya  ketika mereka membawakan lagu berjudul Pesta.

Menjelang berakhirnya acara di malam pertama, pertunjukkan dilanjutkan dengan suguhan elektronikal musik.

“ Pindah mi’ Retro di tengah hutan ‘kak”. Kembali salah seorang teman berseloroh sambil menyebutkan salah satu tempat clubbing di kota Makassar.

Jujur saja hingga bagian ini, imajinasi saya tentang berlibur di tengah hutan kembali terusik. Saya memilih masuk ke dalam tenda, dan berbaring meregangkan tubuh. Dari luar masih terdengar  suguhan elektronikal musik yang  sayangnya menyuguhkan irama yang sudah lawas. Mengapa mereka tidak memilih lagu Top 40 untuk mereka mix kan?

Salah seorang teman lain bahkan dengan kejamnya berkata

“ Seperti musik pete-pete’ ’” selorohnya mengibaratkan seperti mendengarkan house music di atas angkot.

Jika harus jujur, sebagai orang  yang “pernah” jadi penikmat musik dugem, saya harus mengiyakan. Bahkan beberapa penonton yang duduk di sekitar panggung – kecuali beberapa tamu bule’- sepertinya enggan untuk ikut bergoyang menikmati suguhan musik tersebut. Kurang menghentak, beat nya kurang klimaks, sedikit nanggung untuk ukuran musik dugem.

Tidak betah berada di dalam tenda, saya memutuskan berkeliling ke area foodcurt. Ada sekitar delapan unit stand yang menjajakan makanan dan minuman. Mulai dari jagung bakar hingga nasi campur. Mulai dari Espresso hingga Sara’ba, minuman khas masyarakat lokal yang terbuat dari Jahe.

Area Foodcurt Musik Hutan 2015

Area Foodcurt Musik Hutan 2015

Kami awalnya sempat salah kaprah. Mengira bahwa harga tiket sudah include dengan  konsumsi. Alhasil kami tidak membawa persiapan ransum yang memadai.

Peserta diberi pilihan  untuk  berbelanja di area foodcurt yang telah disediakan.  Sistem transaksinya termasuk unik. Kita harus menukarkan uang tunai dengan voucher belanja terlebih dahulu di “Bank Area”. Mulai dari pecahan Rp. 5000,- hingga pecahan Rp. 50.000,-.  Bentuknya mirip dengan lembaran mata uang  permainan monopoli. Voucher inilah yang kita gunakan untuk bertransaksi dan berbelanja.

Sebelum memutuskan untuk tidur, saya sempat berselonjor di depan panggung.  Menikmati suguhan pemutaran film dokumenter, tentang perjalanan sembilan orang Skaters Asia yang melakukan tour di Kuala Lumpur dan Singapore.

Pemutaran film tersebut menjadi rangkaian acara penutup di malam pertama Musik Hutan 2015.

Saya memutuskan mengabari teman yang akan menyusul besok pagi. Meminta bantuan donasi ransum berupa makanan, camilan, dan kopi.

Saya merebahkan tubuh di dalam tenda. Menghirup udara aroma sejuk hutan sebanyak-banyaknya. Jika kebosanan melanda hingga esok, saya akan coba menawarkan ke teman-teman untuk berpindah lokasi camp. Kemana saja. Mungkin ada pilihan lain yang lebih tenang dan tidak terlalu jauh dari sekitar lokasi. Air terjun, sungai, atau apa saja.

*******

Sekitar pukul setengah sembilan, saya terbangun oleh suara kedua MC kocak yang membangunkan seluruh peserta. Matahari sudah mulai terik. Untungnya rimbunan pohon pinus menghalangi sinar matahari langsung masuk ke dalam tenda.

Beberapa band yang menjadi pembuka di hari ke dua, langsung menghentak pagi di Musik Hutan 2015. Kembali dengan aliran musik rock  yang terlalu hingar bingar untuk sebuah pagi di tengah hutan.

Selang berapa waktu, teman kami yang menyusul pagi itu akhirnya tiba. Kami menyambut dengan sumringah. Apalagi melihat barang bawaan berupa ransum yang cukup memadai hingga esok hari.

Sementara sibuk mempersiapkan sarapan, saya terpaksa harus menoleh ke arah panggung. Di awali dengan dentingan piano yang groovy , tanpa sengaja membuat kaki ikut berdendang.

Adalah The Joys yang menjadi pengobat kekecewaan di hari kedua. Mereka membawakan lagu “Boy’s Don’t Cry”. Saya bahkan melangkahkan kaki ke depan panggung untuk melihat penampilan mereka dari dekat, ikut menikmati groovy musik yang mereka bawakan.

Kejutan tidak hanya sampai disitu, tepat ketika MC menyampaikan bahwa di lokasi Musik Hutan juga ada Kedai Buku Jenny, saya langsung bergegas. Kita bisa meminjam dan membaca buku apa saja, cukup dengan menitipkan kartu tanda pengenal.

Idenya sederhana, namun saya harus salut dengan kepiawaian pelaksana kegiatan yang jeli membaca kemungkinan  terburuk jika ada peserta yang kurang bisa menikmati seluruh rangkaian acara.

Mereka menawarkan membaca buku. Dan buat saya membaca buku merupakan senjata ampuh pembunuh kebosanan.

Sudah bisa ditebak. Selama beberapa jam ke depan saya menenggelamkan diri dengan novel sastra terjemahan. Berbaring sambil berayun di atas hammock di tengah pohon pinus yang menjulang. Sesekali ikut bertepuk tangan setiap kali The Joys selesai membawakan lagu mereka.

Konsentrasi saya kembali buyar. Mata saya ingin tetap melanjutkan bacaan yang lagi seru-serunya, namun telinga saya memaksa untuk mengalihkan pandangan kembali ke arah panggung.

Menyaksikan keseruan panggung Musik HUtan 2015 di hari ke dua

Menyaksikan keseruan panggung Musik HUtan 2015 di hari ke dua

Performance dari band parodi lokal kali ini. Tidak hanya dengan dandanan yang eksentrik, tetapi juga dengan lirik lagu yang disampaikan dalam bahasa Makassar. Penampilan dari  Bulu Ayam -nama band tersebut- berhasil mengocok perut penonton bahkan terpingkal-pingkal.

Simak saja potongan lirik berikut ini

Barongko, Unti dipeca’ peca’

Pisang Ijo, Pisang dikasumba

Pisang Epe’, pisang disessa-sessa

Pallu Butung, Pisang disa’re santang

Terjemahannya kurang lebih seperti ini,

Barongko, pisang yang diremas-remas

Pisang Ijo, pisang yang diberi pewarna

Pisang Epe’, pisang yang disiksa

Pallu Butung, pisang yang diberi santan.

Penggalan lirik di atas menceritakan bahwa Makassar kaya akan penganan lokal, khususnya yang terbuat dari pisang. Mereka membawakan lagu tersebut dengan irama gembira dan aksi panggung yang kocak. Hutan pun pecah dengan tawa para penonton.

       ******

Setelah istirahat siang, Fery Febryansyah membuka kembali panggung musik hutan.  Iringan gitar akustik yang dimainkannya membuat saya semakin tenggelam dengan suasana alam siang itu.

Apa yang lebih menyenangkan dari membaca buku sambil berayunan di atas hammock, menndengarkan irama musik akustik, di tengah rerimbunan pinus pula.

Finally! Saya menemukan soul dari  perhelatan Musik Hutan kali ini.

Bahkan penonton berkali kali meminta Fery Febryansyah untuk melanjutkan performance nya di lagu ke empat, ke lima dan seterusnya.  Jika saja tidak mengingat durasi untuk band lainnya, mungkin MC harus mengalah mengikuti keinginan penonton.

Ternyata bukan hanya saya, mereka pun menemukan soul dari Musik Hutan melalui irama akustik  yang dibawakan oleh Fery Febryansyah.

Jika lumrahnya kita mendengar musik reggae di sebuah pulau atau di pinggir pantai, kali ini pelaksana Musik Hutan mengajak peserta untuk menikmati reggae di tengah hutan.

Giliran Gala Rasta menunjukkan kepiawaian mereka.  Sangat easy listening, dan begitu mudah diterima bahkan untuk orang yang baru pertama kali mendengar lagu mereka. Wajar saja jika band ini menjadi salah satu nominator di ajang musik Anugeah Musik Indonesia (AMI ) Award 2015.

********

Masih di hari kedua. Sedikit kekecewaan di malam pertama Musik Hutan 2015 menguap begitu saja.

Penonton mendadak hening ketika setelah sholat isya. Panggung dibuka dengan suara petikan gitar yang bernuansa etnik. Sesekali suara vokalis wanita bersenandung seperti suara seorang yang merapal mantra.

Hanya dengan lirik pembuka ” hemmmmmm..hemmmm…heiyyeee…hiyyyeeeeee”, sang vokalis langsung menghipnotis penonton.

Ketika siang tadi saya berkesimpulan bahwa saya menemukan soul dari Musik Hutan, mungkin saya perlu meralatnya.  Justru ini musik hutan yang sebenarnya.

Iringan gitar bernuansa etnik plus suara sang vokalis yang bernyanyi tanpa tekhnik yang rumit , berhasil menghadirkan suasana magis tersendiri. Saya bahkan masih asing dengan lagu yang mereka bawakan. Namun seperti sihir, Theory Of Discustic berhasil membawa penonton larut dalam musik mereka.

Saya sempat melirik ke atas langit. Bulan sedang purnama, bulat, utuh. Saya kembali menghirup udara hutan sebanyak-banyaknya.

Mungkin ini perasaan yang sedikit berlebihan. Saya merasa saya bisa saja jatuh cinta dengan siapa pun yang ada pada malam itu.

Alam, bulan purnama, malam, dan musik etnik. Siapa yang tidak jatuh cinta?

Baru saja hendak beranjak menuju tenda, seorang musisi lokal melanjutkan panggung. Dia membuka performance dengan menyampaikan rasa bangga nya sebagai pemusik lokal diberi panggung di tanah sendiri.

Adalah Seselawing, yang menjadi performance selanjutnya. Mengusung musik Jazz, dengan lirik lagu dialek Makassar.  Alih alih kedengaran kasar, irama lagunya justru menghadirkan suasana romantis malam itu.

Lamata’ mi pacaran sayang

Na masih dumba’ dumba’ nyawaku

Setiap kaliki’ ketemu, na ki siruppa mata”

(Sudah lama kita berpacaran sayang

Namun nyawaku masih berdebar-debar

Setiap kali kita ketemu, ketika matakita saling memandang)

Begitu kira kira terjemahan liriknya.  Penonton sampai ber”ciehh-ciehhh” dengan lirik yang disenandungkan.  Ahh, saya menyesal mengapa belum memiliki pasangan yang bisa diajak malam itu. Bisa saja itu menjadi malam paling romantis yang pernah kami lewati

Lagu berikutnya, Seselawing membawakan lagu tradisional “ Cincing Banca’”. Lagu yang disenandungkan oleh anak-anak ketika memainkan salah satu permainan tradisional. Serupa cublak-cublak suweng dalam permainan tradisional Jawa.

Tidak tanggung-tanggung. Awalnya lagu ini dibawakan dengan irama reggae, dan perlahan tempo besotan gitarnya mulai cepat , bertambah cepat, semakin cepat, dan bertambah cepat. Lalu tiba-tiba melambat, semakin lambat, nyaris tidak terdengar dan tiba-tiba disambut dengan irama jimbe yang menghentak cepat.

Bravo untuk dinamika performance Seselawing !!

Mau tidak mau memancing emosional penonton untuk terus bertepuk tangan selama pertunjukkan. Wajah kepuasan penonton jelas terpancar dibawah sorot keremangan lampu dekorasi.

Pertunjukkan malam itu ditutup dengan performance Dj’ Austin. Kali ini untuk jenis musik yang dibawakan lumayan update. Saya terpaksa kembali meninggalkan novel bacaan sejenak, memilih duduk di dekat panggung dan ikut menikmati alunan musik dari Dj’ Austin.

*****

Ada satu hal yang saya garis bawahi pada perhelatan Musik Hutan 2015. Kembali tentang jenis musik tertentu, musik rock alternative misalnya yang terlalu bising untuk sebuah hutan.

Bukan hanya demi kenyamanan pendengaran pengunjung, namun juga kenyamanan aneka ragam hayati yang mendiami lokasi tersebut.

Semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan penyelenggara kegiatan untuk tahun-tahun berikutnya. Mengingat kebisingan yang diakibatkan oleh aliran musik tersebut, apalagi dengan kekuatan soundsytem 10.000 Watt.  Semoga saja sang “tuan rumah” tidak merasa terusir lalu mengungsi sejenak dari habitatnya. Ini hanya kekhawatiran pribadi tentu saja.

Apalagi Musik Hutan kali ini juga mengkampanyekan perlindungan terhadap Macaca Maura, sejenis monyet endemik khas Sulawesi.

Selain itu, secara keseluruhan saya salut atas pagelaran Musik Hutan 2015. Tidak hanya sekedar perhelatan musik biasa, namun Musik Hutan juga mengajak para peserta untuk lebih menikmati alam secara santun.

Satu fenomena menarik untuk Musik Hutan 2015.

Beberapa waktu lalu, dunia sosial media sempat di hebohkan dengan beberapa tingkah laku para penikmat alam yang masih “ababil”. Mereka dianggap menikmati alam hanya karena ikut-ikutan. Masih kurang kesadaran pentingnya menjaga lingkungan alam.

Akibatnya banyak pecinta alam yang protes dengan kelakuan mereka.  Mereka dianggap salah satu penyebab banyaknya sampah yang menumpuk entah di pegunungan, di lautan, atau tempat wisata alam lainnya.

Untuk issue di atas saya tidak bisa berkomentar apa-apa.

Yang jelas di Musik Hutan 2015, jujur saja banyak pengunjung yang tergolong masih “ababil”. Sayangnya teori di atas bahwa pengunjung ababil yang hanya bisa menyisakan banyak sampah tidak terbukti.

Di perhelatan Musik Hutan 2015, baik di hari pertama maupun di hari ke dua, tidak ada sampah yang berserakan sepanjang pengamatan saya. Bersih sebersih-bersihnya dari sampah kegiatan.

Salut !

Untuk kegiatan nge-camp dengan beberapa orang saja, terkadang sulit untuk tidak meninggalkan sampah. Apalagi ini , kegiatan yang melibatkan ratusan orang. Tidak terbayang sampah yang harusnya timbul akibat kegiatan ini.

Namun Musik Hutan 2015 mampu menjadi contoh yang baik. Tidak ada sampah, tidak ada api unggun, tidak ada pengrusakan pohon. Mereka berhasil mengedukasi para peserta.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada seluruh penggiat alam, tidak berlebihan rasanya jika Musik Hutan secara pribadi bisa dijadikan sebagai salah satu contoh untuk berkegiatan di alam. Mereka berhasil menepis kekhawatiran beberapa pihak yang mengira bahwa kegiatan mereka justru mungkin menyisakan tumpukan sampah di tengah hutan.

Terlepas dari beberapa pengisi acara yang terkesan sedikit dipaksakan untuk mengisi panggung Musik Hutan 2015, khususnya musik yang terlalu hingar di tengah hutan, saya salut untuk keberanian panitia penyelanggara yang merangkul musisi lokal dari segala lapisan.

Satu diantara sekian event musik yang memberi panggung secara penuh kepada musisi lokal. Tanpa harus menyewa bintang tamu Band papan atas, tapi berhasil meberikan suguhan konser musik yang tidak kalah memuaskan.

Panitia Musik Hutan sekali lagi memberi contoh, jika bukan kita yang meberi panggung untuk karya karya musik lokas. Siapa lagi?

Setidaknya bisa memberi ruang bagi karya musisi lokal agar dapat dinikmati dan menjadi raja di tanah sendiri.

Bahkan dari perhelatan Musik Hutan 2015 ini, saya akhirnya memiliki beberapa nama baru  yang bisa menjadi  referensi untuk menghidupkan panggung beberapa event ke depan. Sekali lagi tanpa perlu menelan biaya besar-besaran dibandingkan harus mengundang Band Ibu Kota.

Selamat untuk Musik Hutan 2015. Terima kasih telah memberikan suguhan acara yang hebat. Semoga di tahun berikutnya, saya berkesempatan hadir untuk kembali menikmati secara langsung Musik Hutan 2016.  Semoga Musik Hutan tetap bisa menjadi contoh untuk perhelatan musik lainnya.

Iklan

#BatuSekam, Menguliti Matamatahari.

Tag

,

11084762_1381331758858034_964806790_n

Tulisan ini dibuat dalam rangka #BatuSekam (Baku Tulis Senin Kamis) Kelas Menulis Kepo

Bagian ini selalu saja menjadi favorit saya. Khususnya di edisi kedua #BatuSekam ini. Akhirnya saya memiliki alasan untuk mengulik tuntas, tentang sosok yang satu ini.

Jujur saja, hingga hari ini saya belum menemukan alasan yang jelas untuk menguliti sosok yang satu ini. Dia jelas merasa risih jika harus membahas ranah pribadi.

Namun kali ini, beda konteks. Bayangkan saking senangnya, kali ini saya menulis sambil tersenyum. Bukan senyum tulus seperti dalam tulisan Senyum Muktamar. Tapi senyum kemenangan.

Namanya Andi Nasser Otto. Orang acapkali memanggilnya ‘Na. Singkat, padat.  Orangnya pendiam, sedikit bicara, lebih memilih menahan perasaan. (Serangan pertama).

Postur tubuhnya tinggi, kurus, berkulit putih dengan rambut hitam pendek bergelombang. Matanya bulat, dengan penuh rasa ingin tahu yang banyak.

Meskipun berkulit terang, ‘Na bukanlah type pria yang  “manja”.  Terlihat dari urat-urat tangan yang menonjol, menggambarkan bahwa betapa selama ini kedua tangan itu terbiasa bekerja keras.

Jika saja ada wanita yang berani “mengintip” ke hatinya, mungkin saja sang wanita menemukan seonggok hati yang juga berurat,mungkin dengan urat yang lebih banyak,  lelah bekerja keras untuk lepas dari masa lalu. Mungkin saja.

Nah, sampai sini cukup untuk serangan pertama.

Selanjutnya saya akan mengajak anda  berjalan-jalan sejenak, menelusuri apa yang ada di benak seorang ‘Na, lewat tulisannya.  Untuk awam seperti saya, mungkin harus beberapa kali mengernyitkan kening, bahkan perlu membaca berulang-ulang untuk memahami maksud yang tersirat dalam tulisan seorang  ‘Na. Namun untuk pecinta kesusastraan klasik, saya hanya bisa mengucapkan selamat menikmati.

Mari silahkan berkunjung ke Desember . Singkat, padat. Saya harus mengakui kecerdasan ‘Na, untuk menyampaikan pesan bagaimana seorang wanita dalam tulisan ini ( saya tidak mengatakan “mantan” ) , telah menemukan separuh jiwa yang lain. Sepuluh baris, dan saya menggaris bawahi kalimat di baris ke lima.

Maksud saya, aduh!!  Bagaimana mungkin” kekecewaan utuh” hanya bisa digambarkan dalam sepuluh baris?

Dan seorang ‘Na, bisa melakukan itu.

Selain ‘Na –bisa menggambarkan-seorang pria penyimpan luka yang baik, tulisannya juga bisa menggambarkan seorang  pencinta yang abadi.  Silahkan intip tulisan ini, Selamat Hari Ibu-Mantan.

Tidak ingin tergesa-gesa mengambil kesimpulan, saya harus membaca pelan, berulang. Mencoba menarik makna dari setiap rangkaian kata, setiap kalimatnya. Hingga tiba pada kalimat

potret yg saya yakin tak seorang pun mahluk bernyawa di semesta ini akan membencinya.

potret yg mengabadikan kebahagiaan seorang malaikat dan seorang bidadari.

potret seorang bayi yg baru dilahirkan, yg damai di peluk ibunya.

Tiga baris, tiga kalimat, untuk manusia tiga huruf  yang  paling mulia di muka bumi. Kita menyebutnya, IBU.

Dalam tulisan ini, jujur saya masih bingung.  Jika dilihat pada judul artikel, yang menjadi pesan inti pada tulisan di atas adalah tiga baris terakhir.  Baris-baris sebelumnya mungkin hanya pelengkap. Tapi baris pelengkap dalam tulisan di atas, juga memiliki pesan inti bukan?

Namun mungkin justru inilah yang menjadi gaya tulisan kesusastraan klasik.  Setiap kata, setiap kalimat harus hidup. Dengan gaya mereka sendiri.  Dalam satu kalimat, ada banyak pesan yang bisa disampaikan. Para pembaca dibiarkan menelaah sendiri.  Tanpa penulis harus repot-repot memberikan gambaran detail latar, waktu, tempat, namun pesan bisa tersampaikan.

Saya ingat pertemuan kali pertama dengan ‘Na. Saat itu, saya bersama puluhan kawan lainnya, sedang bermain arus  di Sungai Ule’, kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.

Dengan sebuah ban yang dililitkan dengan webbing, kami mengarungi arus sungai yang cukup deras. Pangkal webbing dipegang dari atas bebatuan setinggi tiga meter. Untuk keamanan, agar ban yang kami gunakan tidak terseret arus terlalu jauh.

“ Siapa itu, kak? Kenapa mereka di atas saja, ndak ikut main air sama anak-anak” Tanya salah seorang  kawan.

“ Oh, ndak taumi.  Mungkin dari tim rescue atau semacamnyalah, sengaja disewa untuk jaga keamanannya anak-anak” Jawab saya enteng.

Saat  itu ‘Na lah yang memegang pangkal webbing, tanpa ikut turun bermain air bersama kawan lainnya.

**********

Seandainya saya tidak pernah  mendengar cerita ini, mungkin saya tidak percaya bahwa tulisan berikut  adalah tulisan ‘Na.  Gunung dan Kawanku.  Ada dua puluh bagian lebih.

Untuk sosok pendiam dan memilih menyimpan banyak hal, jujur saja saya kaget bahwa ‘Na ternyata bisa lebih “cerewet” dari biasanya. Kali ini tanpa kesusastraan yang berbelit-belit, ‘Na menyampaikan kisah dengan lugas dan gamblang. Meskipun dengan konsekuensi dia harus bercerita lebih banyak dari biasanya. Terlalu banyak untuk karakter seorang’Na.

Sebagai pembaca saya cukup menikmati gaya tulisan ‘Na pada umumnya. Mulai dari gaya kesusastraan klasik yang singkat namun syarat makna, ataupun dengan gaya tulisan lugas, gamblang, dan lebih panjang dari biasanya.

Asalkan saja ‘Na tidak menulis dengan gaya kesusastraan plus lebih panjang dari biasanya. Saya pasti  memilih membaca diktat Fisika tentang teori kuantum, Maxwell, atau semacamnya. Sumpah.

Yang menjadi tulisan favorit saya di matamatahari.com , adalah bagaimana sosok yang digambarkan dalam tulisan ‘Na ( mudah-mudahan itu bukan dirinya) secara terpaksa harus kembali ke sepuluh tahun kemudian hanya karena mengunjungi suatu tempat.

Untuk seseorang yang kunamai masa lalu . Na’ memang penyimpan masa lalu yang baik. Saya berpikir , dalam kurun waktu sepuluh tahun harusnya banyak kenangan lain yang bisa tercipta di tempat itu.

Saya belum mengerti , mengapa ‘Na, harus kembali pada bagian sepuluh tahun sebelumnya. Mengapa bukan pada delapan tahun sebelumnya, atau satu tahun lalu sebelumnya, atau beberapa bulan sebelumnya. Masih segar dalam ingatan tentu saja.

Saya hanya menemukan dua  kemungkinan. Dalam kurun waktu tersebut, memang belum ada kisah menarik yang penting untuk diingat. Atau, sosok sepuluh tahun lalu, sudah memberi kenangan yang terlalu kuat untuk sulit dilupakan. Siapapun dia, mungkin dia lupa, bahwa sekali lagi ‘Na, adalah penyimpan luka yang baik.

Salah satu minuman favorit Na'

Salah satu minuman favorit ‘Na.

Nah, untuk seorang ‘Na,  sebanyak apapun luka yang kau simpan, teruslah menulis. Atau jika  menulis sudah terlalu pahit untukmu, mungkin kamu perlu sedikit pemanis dalam kisahmu. Seperti yang sering kau lakukan, menghabiskan bergelas-gelas FrappucinoCream dengan ekstra lelehan saus cokelat dari yang seharusnya. Biasanya kau lebih banyak tersenyum dan kelihatan lebih cerah setelah melakukan kebiasaanmu^^.

Bagian III, Menjemput Rezeki, Menguji Nyali di Muktamar Muhammadiyah Ke-47 Makassar

Tag

, , ,

Sebelumnya di Muktamar Muhammadiyah ke-47

Bagian I : https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/20/menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar/

Bagian II : https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/20/menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar-bagian-ii/

“Kak…!!!Kak Achil..!! Kak…Kak AChil..!! Bangunmaki’, sudah jam lima subuh..”

Rasanya saya baru saja menenggelamkan diri menyatu bersama kasur hotel. Bahkan belum sempat bermimpi malahan.

“ Kak.. Bangunmakie’. Terlambatmi orang..!! Kak…!! Kak Achilll….” Kali ini Achi kembali membangunkan sambil mengguncang-guncangkan tubuh saya.

Saya membuka membuka mata. Mengulat, meregangkan otot sejenak, lalu memaksakan diri untuk duduk. Saya menguap sambil mengerjap –ngerjapkan mata mengumpulkan kesadaran.

Achi menggerutu, mengumpat diri sendiri karena kebablasan tidur. Sambil mengenakan kemeja, langkahnya mondar mandir, sementara tangannya sibuk mengumpulkan tumpukan kertas  dan menjejalkannya begitu saja ke dalam ransel.

Saya melirik jam.  Sontak sepersekian detik kesadaran saya pulih. Dalam satu kali lompatan sayameraih ransel, serampangan  mencari kotak perlengkapan pribadi, dan melesat secepat mungkin ke kamar mandi.

Sikat gigi, facial foam, deodorant.

Tiga benda Pertolongan Pertama Pada saat Kepepet (P3K) , kembali menyelematkan saya subuh ini.

Kurang dari sepuluh menit saya sudah rapi, berlari menuju lift. Achi sibuk berkoordinasi via telfon. Memastikan semua tim telah standby di depan hotel masing-masing. Kami berlari kecil menuju parkiran. Sedikit ngebut, Achi mengantarkan saya menuju hotel Gladiol.

Peserta sementara sarapan, saat saya tiba di hotel Gladiol. Sembari melemparkan senyum, saya berbasa basi menanyakan  apakah tidur mereka cukup nyenyak atau tidak.

“ Ternyata di Makassar masih ramadhan toh mas. Ini kita nyampe nyampe’, langsung disuruh sahur. Sarapannya pagi pagi buta kayak gini toh..” seloroh seorang Ibu paruh baya dengan logat Jawa yang medok.

Peserta lain tersenyum menimpali. Mau tidak mau saya ikut tersenyum.

Saya mengambil barisan di antrian sarapan. Masih ada satu bus yang belum datang. Masih tersisa waktu untuk beberapa sendok nasi goreng sebelum beraktifitas hari ini.

Usai sarapan, saya bergabung bersama Aswar yang sedang asyik mengobrol dengan beberapa supir bus lainnya yang menunggu di parkiran.

 “ Wa’, bus yang satu posisinya sudah di mana?”

Aswar menoleh, tersenyum pahit.

“ Masih sekitaran jalan perintis bede’. Barusan Mas Slamet telfon”

“ Hmm. Untung masalah koordinasi transportasi langsung dihandle sama tim Surabaya, bukan dengan tim kita di’ “ saya mengela nafas. Menghirup udara subuh sebanyak banyaknya.

“Kalau misalkan kak Achi yang handle transportasi, tidak mungkin juga mau pakai bus selain bus pariwisata.’kak. Kalau bus pariwisata, ndak pernah ngaret. Mereka standby terus malah”

 

Saya diam mencerna.  Selama ini saya berpikir , semua bus yang membawa rombongan tour adalah bus pariwisata. Bahkan terkadang saya mengernyitkan kening ketika berpapasan dengan salah satu bus pariwisata yang isinya hanya segelintir orang.

Jika dalam satu bus pariwisata bisa memuat 20-30 orang, mengapa tidak menyewa beberapa empat sampai lima unit mobil saja? Ilmu matematika saya segera berhitung sekian detik. Cukup menghemat sekitar 40%  jika mereka harus menyewa satu unit bus .

Lebih nyaman, dan lebih leluasa membawa kendaraan kemana-mana. Meskipun kurang praktis karena rombongan harus terpisah.

“ Tidak sembarangan kendaraan ‘kak yang bisa mengantar tamu tour. Bus pariwisata sudah itu sudah terbiasa mi’ disiplin. Mereka paham betul, kalau tamu mau maksimalkan waktu mengunjungi tempat sebanyak mungkin yang mereka bisa kunjungi”

Saya merogoh  saku jeans. Menyulut sebatang rokok, lalu kembali menyimak penuturan Aswar.

“ Kalau supir bus pariwisata, sudah di luar kepala mereka, para tamu mau dibawa kemana. Mulai dari  tempat rekomendasi khusus kuliner, belanja, oleh-oleh, wisata, tentu mereka paham mi. Tidak pakai kesasar lagi” tandas Aswar.

Nyaris setengah jam, kami mengobrol. Obrolan berakhir ketika bus  yang kami tungggu akhirnya tiba. Subuh telah berganti pagi ketika semua bus telah terisi penuh oleh peserta dari hotel Gladiol dan Capital. Bus yang lain telah berangkat lebih dulu menuju lapangan Karebosi.

Antrian Bus di Gerbang Lokasi Pembukaan Muktamar, Jl. Ahm. Yani, Makassar

Selama perjalanan saya menyempatkan mengobrol dengan supir bus.

“ Aihh,, kurang sekali tidur ini ‘Pak. Sejak semalam bolak balik bandara menjemput rombongan.” Pak supir mengeluh atas kekurangan waktu istirahatnya.

“Sama jaki’, Pak. Tapi kan sebanding ji ‘ lah rezekinya untuk istri dan anak ta’ di rumah toh? Hehe..Jarang kegiatan seperti ini di Makassar. Kapan lagi?”. Saya mengucapkan hal serupa untuk mengumpulkan diri sekaligus.

“ Iye , lumayan ji memang lah Pak. Banyak lembur lemburnya. Ini saja, setelah sampai, harus ka’ lagi ke UNISMUH, jemput rombongan lainnya” ujar sang supir sambil sumringah.

“ Loh, Tidak terlambat ji’ itu? Kenapa bukan yang lain. Tidak dibagi-bagi kah ‘Pak? Apalagi pasti macet sebentar.” Saya menoleh sejenak, mengalihkan perhatian dari jalan yang kami lalui.

“ Tidak dibagi ‘Pak. Pokoknya siapa yang sudah selesai langsung segera jemput rombongan yang lain” tandasnya.

Ternyata benar. Masalah transportasi dan mobilisasi peserta akan menajdi PR besar untuk pelaksanaan Muktamar kali ini.

Lalu lintas mulai padat ketika kami tiba di lokasi. Tentu saja beberapa arus lalu lintas harus dialihkan.

Untung saja bus yang mengantar rombongan masih bisa merapat hingga ke gerbang, untuk menurunkan peserta rombongan.

Sebelum berpisah, saya memberi arahan kepada peserta dan supir bus untuk bertemu di depan Monumen Mandala, sekitar pukul 13.00, tepat ketika acara diperkirakan selesai.

Acara pembukaan masih sekitar 3-4 jam lagi. Saya menyempatkan diri mengintip ke lokasi pembukaan sebelum bergabung kembali dengan tim yang telah menunggu untuk kembali ke Hotel.

******

“Kak, bagaimana catering, siapmi? Ada perubahan rencana, rombongan sudah bisa meninggalkan lokasi sekarang. Kalau bisa pas sampai di hotel, lunch box nya mereka sudah standby”

Achi baru saja mengabarkan perubahan rencana. Lunch box harus ready satu jam lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

“Loh, bukannya jam satu saing yah, ‘Ci’?”

“ Tidak tau juga ini’ kak. Banyak peserta yang sudah mau pulang. Ini semua tim dalam perjalanan menjemput rombongan”.

Saya menyempatkan berpikir sejenak. Penasaran apa yang terjadi di lokasi pembukaan Muktamar. Apakah rangkaian acara telah selesai atau ada hal lain. Atau mungkin saja tim Penggembira rombongan kami sudah bosan lalu memutuskan untuk pergi.

Tapi, bukan berarti karena rasa bosan kita bisa pergi begitu saja, kan?

 

Dihari kedua, kami melakukan rolling. Achi turun ke lapangan handle peserta, dan saya ditarik mundur di lini belakang untuk langsung mengurus catering.

Saya kembali berpikir kemungkinan lain. Bisa saja peserta tim penggembira ini memang kebosanan dan tidak ada kepastian yang jelas, sehingga mereka memutuskan untuk pulang.

Yah, siapapun yang bosan menunggu ketidakpastian ber hak untuk pergi. 

Setelah menerima instruksi, saya kembali ke tim catering saya. Mencoba kalkulasi waktu.

“ Satu jam lagi, makanan sudah harus siap. Ada perubahan rencana, jam dua belas semua sudah harus diantar ke hotel” Saya berteriak ke tim yang sementara sibuk mengolah bahan.

“ Ih, ndak dapatki itu. Sekarang saja jam 11 mi. “ Ujar Madam, panggilan khusus saya ke koki utama.

“ Begini saja, Madam. Kita fokus dengan makanan utama dan bumbu. Garnish dan packing biar yang lain selesaikan. Selesaikan mi masakanta’ ”

Sejenak mereka berhenti, seolah menunggu instruksi selanjutnya.

“Ino’, panggil tetangga dulu, tiga-empat oranglah untuk bungkus sayur dan buahnya”  Ujar saya ke salah satu karyawan.

Ino’ langsung bergegas. Saya segera membuka sepatu dan kemeja, berganti dengan celemek. Kali ini mau tidak mau saya ikut terjun langsung untuk menggenjot kerja tim.

“Oh iya, ‘Pak. Setiap selesai dipacking ke dalam kantongan, langsung angkut ke mobil saja”

Saya member instruksi kepada tiga orang supir yang ikut ke lokasi catering siang itu. Sengaja kami membawa tiga unit mobil, agar lunch box bisa diangkut sekaligus tanpa harus bolak balik.

Tenaga ekstra telah tiba. Saya memberi arahan singkat ke mereka. Silahkan bantu apa saja, selain bumbu dan menu utama tentunya. Hanya saya dan Madam yang bisa menyentuh kedua hal tersebut. Tentunya ini untuk menjaga kontrol makanan kami.

Handphone saya tidak berhenti berdering. Aswar dan Achi bergantian menanyakan kesiapan catering. Mereka mengabarkan sebagian peserta telah menuju ke hotel untuk istirahat.

Untungnya setiap kali menelfon, Achi selalu bertanya tanpa nada panik. Otak saya tetap bisa fokus mengontrol tim catering. Meskipun begitu, nyaris setiap lima menit saya melirik kea rah jam dinding.

“ Inoo….. Tolong cari tambahan dua tenaga lagi!! Harus lebih cepat”. Teriak saya.

Ino bergegas. Tidak cukup lima menit, dia telah kembali bersama dua orang ibu paruh baya. Sepanjang saya memimpin catering, belum pernah saya menggunakan tim sebanyak ini. Bahkan dengan jumlah pesanan yang lebih banyak.

Apalagi kali ini secara tiga hari berturut-turut, dua gelombang setiap hari nya. Makan siang dan makan malam. Masing-masing maksimal hanya tiga jam, sebelum makanan sampai di tangan konsumen. Tentu saja ini untuk menjaga kesegaran menu.

“ Cil, sisa sambelnya ini. Tapi tidak dapat waktunya, minimal 40 menit baru bisa masak bumbunya, bukanmi masalah jumlah tenaga ini, masalah waktu  nya. ” Ujar Madam meminta pertimbangan.

“Plan B, Madam. Sambal Dabu-Dabu.”  

Madam mengangguk, kembali fokus mengolah bumbu.

Mobil pertama telah terisi penuh. Saya memberi selembar catatan kepada sang supir, untuk mengantarkan lunchbox, untuk dua hotel yang berbeda.

Tim kembali sibuk. Suara blender, spatula dan wajan, desis suara bumbu tumisan, hanya itu yang sempat terdengar untuk beberapa saat. Saya mencoba berseloroh untuk mencairkan suasana.

Satu jam berikutnya, mobil kedua berangkat. Sama halnya dengan mobil pertama, saya memberi secarik kertas jumlah pesanan yang harus didrowp, untuk dua hotel yang berbeda.

Selang beberapa waktu, handphone saya tidak berhenti bordering. Mulai dari Achi yang terus memantau perkembangan persiapan lunchbox, hingga dari supir yang sempat kebingungan menemukan alamat hotel.

Ternyata betul apa yang dikatakan Aswar, tidak sembarangan yang bisa menghandle tamu. Supir saja masih kebingungan mencari alamat hotel, padahal telah dibekali dengan alamat.

Satu setengah jam berikutnya, semua lunchbox telah diantarkan hinga ke hotel terakhir. Beberapa tamu sempat mengeluh,  atas keterlambatan makan siang mereka. Untung saja dengan alasan macet, mereka bisa memaklumi.

Perjalanan menuju hotel pun mereka sempat mengalami macet yang cukup lama.  Saya segera meminta kesediaan mereka untuk segera menikmati santap siang lalu beristirahat. Waktu kita tidak banyak

Sebentar sore kita akan menikmati senja di pantai Losari. Tentunya sebelum itu mereka akan kami ajak untuk mengunjungi pusat perbelanjaan oleh- oleh di jalan Somba Opu.

Mendengar hal demikian, mereka kembali sumringah. Bahkan beberapa peserta meminta agar langsung berangkat saat itu juga.

“Yah, wong sabar toh ‘Bu. Mending istirahat untuk kumpulkan tenaga. Entar sore kita ujian mental. Kuat mana ilmu tawar menawarnya Ibu’, dengan yang penjaga toko oleh oleh yang ada di Jalan Somba Opu”

“Boleh ‘Mas. Liat yah kalau sebentar saya yang menawar. Penjualnya pasti langsung minta tutup toko” Kilah seorang Ibu paruh baya. Sejenak saya mengingat. Oiya, beliau yang semalam sempat dongkol berat di Bandara.

Peserta yang lain ikut berseloroh . Saya sampaikan, Pukul 15.30 kita berkumpul lagi depan hotel untuk City Tour. Hampir semua peserta tidak sabar menunggu.

Saya bergegas kembali menuju Aswin inn Hotel. Briefing untuk planning selanjutnya.

Saya tersenyum sambil geleng geleng kepala mengingat kejadian barusan. Yang jelas saya berhasil membuktikan satu teori klasik.

“ Jika wanita marah, tidak perlu membujuk terlalu lama. Cukup ajak dia berbelanja”.

#BatuSekam, Maafkan Saya, Ian.

Tag

, ,

Berkecimpung di dunia komunitas Makassar beberapa tahun terakhir, membuat saya sering bertatap muka dengan pemuda yang satu ini. Entah di salah satu kegiatan komunitas, atau di beberapa tempat nongkrong komunitas yang ada di Makassar.

Sebelumnya bahkan saya belum sempat mengenal nama. Hanya karena sering bertemu muka, kami saling melempar senyum dan bersalaman.

Saya mulai mengenal namanya, ketika teman-teman dari komunitas Pajappa, membawa segudang cerita dan pengalaman dari kegiatan Kemah Bakti. Kegiatan yang dilaksanakan secara bersinergi dengan komunitas lainnya.

“Ian 1000 Guru”. Begitu acapkali mereka menyebut nama Ian.

Pasca Kemah Bakti dan menjelang Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2015, kami semakin sering bertemu. Sekali lagi hanya saling senyum dan salam, tanpa basa basi lainnya. Setidaknya saya sudah memiliki nama lain yang bisa saya ingat dari komunitas 1000 Guru, selain nama Nunu’, sang juru catat kegiatan PKM 2015 tentunya.

Saya masih ingat ketika PKM tahun 2014, sering menjodohkan Nunu dan Ai’ dari komunitas Stand Up Indo Makassar. Kiprah mereka sebagai MC yang cukup kompak, tidak hanya saya, namun nyaris semua teman teman PKM ikut men”jodoh-jodoh”kan kedua mahluk mungil itu.

Meskipun tentu saja itu hanya sebatas candaan, namun sifat usil tidak pernah bisa menghentikan kami untuk mengusik keduanya. Lucu saja melihat wajah keduanya merona malu.

Awal terbentuknya kepanitiaan PKM 2015, ternyata candaan tersebut masih berlanjut. Tidak hanya sebatas Line group, bahkan ketika bertemu langsung, saya masih sering mengolok-ngolok Nunu’.

“ Halo Nu’ , apa kabar? Mana kk ai’ kecil iniee?? Jadianmi kah??” .

Sambil melirik usil, saya menyapa Nunu. Saya memberi kode mata kepada Ian yang sering datang bersamanya. Mengajak kompak untuk menjahili Nunu’.

Nunu’ hanya tertawa masam. Ian cengengesan.

Kejadian tersebut berulang, dua hingga tiga kali seingat saya. Sampai suatu saat gosip yang ternyata sudah lumayan basi, baru sampai ke telinga saya.

“ Hah..??!! Ohhh…?? Mampus..!!” hanya itu reaksi yang sempat terlontar saya ketika mengetahui bahwa ternyata Nunu dan Ian selama ini telah menjalin hubungan yang “istimewa”.

Pertemuan berikutnya saya menghentikan kekonyolan saya. Sambil cengengesan saya bertanya ke Nunu’

“Ohh,, yang itu mi kah, Nu’ selama ini? Kenapa ndak bilang bilang? Tidak enak ku ini sama Ian, masih sering ganggui ko’ dengan Ai’” sesal saya.

“Hahaha,, tidak ji ‘ kak. Santaimaki’ . Kak Ian juga tauji kalau itu sekedar lucu-lucuan saja”. Nunu menjelaskan bahwa Ian tidak serius menanggapi hal seperti itu.

Bagaimanapun saya masih merasa tidak enak. Semoga saja ucapan Nunu’ benar adanya.Semoga saja Ian tidak mengambil hati candaan saya selama ini. Maafkan saya Ian.

*****

Berikutnya, berada dalam satu wadah Kelas Menulis Kepo, membuat saya dan Ian semakin sering berinteraksi. Setiap kali ada tulisan yang baru saja dipost ke blog masing-masing, link tulisan di share ke group line. Tidak terkecuali tulisan Ian.

Tulisan pertama Ian yang saya baca berisikan “curhat” seorang kekasih yang merasa diduakan oleh kesibukan pasangannya mengurus segala hal tentang PKM. Untung saja PKM hanya sebuah kegiatan. Tidak terbayang jika PKM adalah sosok seorang pria.

Melalui gaya tulisan yang lugas dan mengalir, Ian menyampaikan protes kepada sang kekasih bahwa sebagai pasangan dia juga butuh hak untuk diperhatikan, apapun kesibukan pasangannya. Meskipun pada dasarnya Ian mungkin seorang tipe pasangan yang tidak terlalu memperdulikan hal seperti itu.

Ian berhasil menggiring ke dalam romantisme kecemburuan, ketika saya membaca tulisan tersebut.

Lain lagi dengan gaya tulisan kritisnya. Sudah menjadi hal yang lumrah ketika seorang pemuda menyampaikan apa yang ada dalam pikiran mereka dengan meluap-luap, kritis, dan terkadang terlalu tajam.

Saya sama sekali “belum” menemukan hal demikian dalam tulisan Ian. Ada beberapa yang disampaikan secara kritis, tapi dimulai dengan hal yang logis. Intip saja tulisan “ Etika Mahasiswa Masa Kini dan Proses Kaderisasi”.

Siapapun yang membaca ini, khususnya mantan mahasiswa yang masih sempat mengecap kaderisasi dan senioritas, mau tidak mau harus menganggukkan kepala berkali kali ketika membaca tulisan tersebut. Kritis, logis, namun lembut untuk dicerna.

Belum lagi tulisan Ian tentang “Dinamika komunitas Edukasi di Kota Makassar”.

Ian berhasil mengajak kita untuk berpikir sejenak. Benarkah selama ini kita memberi bantuan apa yang mereka butuhkan? Atau kita hanya sekedar menjalankan program komunitas, memaksa mereka menerima apa yang kita inginkan untuk mereka terima, tanpa mengetahui lebih dalam apa yang menjadi kebutuhan mereka?

Apapun itu, sebagai seorang pembaca saya cukup puas dengan apa yang diungkapkan Ian dalam tulisannya. Ada beberapa pandangan dan pemikiran yang nyaris sama. Dan Ian sudah lebih dulu menemukan cara menyampaikannya. Lebih halus, namun tidak mengurangi “inti pesan” yang ingin dia sampaikan.

Oh oiya, belakangan saya baru tahu, bahwa Ian juga ternyata seorang dosen di salah satu Universitas di Makassar.

Sebenarnya ada dua orang yang bernama Ian  dikelas menulis kepo. Keduanya sama sama pria. Keduanya juga sama-sama dosen. 

Untuk membedakan, menyontek dari istilah teman-teman, kami menyebut mereka “ian yang punya pacar” dan “Ian yang tidak punya pacar”.

Semoga “Ian yang tidak punya pacar” segera punya pacar, dan “Ian yang sudah punya pacar” segera berubah menjadi “ Ian yang sudah punya istri”.

Terakhir pesan untuk Ian. Jika “Ian yang sudah punya pacar” akan mengubah status menjadi “ Ian yang punya Istri”, harusnya Ian tahu pada siapa dia harus mempercayakan urusan tekhnis pernikahannya. ^^

“Tulisan ini dibuat dalam rangka review blog sesama peserta kelas menulis kepo. #BatuSekam , Baku Tulis Senin Kamis”

Menjemput Rezeki, Menguji Nyali di Muktamar Muhammadiyah ke-47 Makassar (Bagian II)

Tag

, ,

Pukul 00.15 Wita

Penjemputan rombongan gelombang ketiga.

Kali ini saya, Asep, dan Aswar berjalan santai dari parkiran bandara menuju gerbang kedatangan. Diperjalanan menuju bandara, kami memperoleh informasi dari Mas Slamet- Tim dari Surabaya yang tiba sejak semalam dan standby di bandara-bahwa pesawat yang membawa rombongan gelombang ketiga mengalami delay selama satu jam.

Antrian bus penjemputan mengulat padat. Petugas bandara terpaksa membagi dua pemberhentian bus penjemputan. Di bagian basement, khusus penjemputan bus peserta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional ( O2SN), dan diparkiran atas khusus bus penjemputan peserta Muktamar.

Papan informasi menunjukkan bahwa pesawat yang membawa rombongan gelombang ketiga telah mendarat. Informasi yang kami terima dari Mas Slamet, tim dari Surabaya sampai mem”booking” satu unit pesawat, khusus membawa rombongan kali ini.

Situasi bandara kembali ramai. Gerbang kedatangan dipadati penumpang yang baru saja tiba. Kami kembali mengangkat sign board , dan mencari rombongan sambil meneriakkan nama hotel masing-masing.

Situasi mulai tegang ketika bus yang harus ditumpangi menuju hotel belum juga muncul di gerbang penjemputan. Mas Slamet kelihatan sibuk melakukan koordinasi via telfon dengan koordintor Bus Damri. Mereka menerima instruksi dari petugas bandara , tidak boleh menjemput di gerbang penjemputan dan hanya bisa menunggu di parkiran.

Tim segera mengarahkan peserta menuju parkiran. Ada beberapa yang mengeluh. Bisa dimaklumi mengingat jadwal penerbangan dini hari dan harus berjalan kaki mengangkat kopor bawaan menuju parkiran tentunya cukup menguras tenaga.

Tiga dari lima unit Bus penjemputan telah terisi. Petugas bandara tiba-tiba menghampiri kami.

Pak, maaf, untuk bus ini sama sekali belum melapor untuk penjemputan. Diluar izin, kendaraan ber plat kuning tidak boleh melakukan penjemputan dalam Bandara” sergah mereka

Tapi pak, peserta Muktamar ji ini juga” saya merangkul salah satu petugas dan membawa mereka menepi dari rombongan

Iya pak, cocok itu. Tapi yang bisa menjemput hanya bus yang telah melapor. Kami kena teguran dari atasan. Silahkan ketemu atasan kami dulu” petugas lainnya kembali berkilah.

Ok, sabar pak. Saya selesaikan ini dulu di’, bagaimanapun mereka tamu ta’. Tidak enak kalau terlantar” . Saya mencoba bernegoisasi sambil memutar otak agar tidak terlibat jauh dengan pihak administrasi bandara.

Masih sementara berdiskusi dengan petugas , salah seorang wanita paruh baya menyeletuk.

“ Mas, ini bus yang lain mana? Ini sudah jam berapa dan kami masih di Bandara?”

Mata saya liar mencari Aswar dan Asep. Saya meminta mereka berkoordinasi dengan Mas Slamet yang menangani masalah bus penjemputan.

Tiga bus siap berangkat, dan dua bus lainnya masih belum tampak. Mas Slamet meminta koordinator supir bus untuk segera update posisi terakhir mereka. Tidak sabar saya menghampiri.

Pak,,mana bus yang lain tawwa? Kasian ini tamu, seharusnya mereka sudah menuju hotel”.

“Tadi ada semuaji, Pak. Sempat memang mutar beberapa kali diparkiran. Kita bingung. Parkir di bawah, kita dilarang sama petugas, disuruh ke atas. Di bawah katanya khusus bus Litha Co yang menjemputO2SN. Pas kita ke atas, malah disuruh ke bawah sama panitia Muktamar, katanya di atas khusus “peserta” Muktamar saja.” Keluh pria bertubuh tegap dan berkulit gelap ini.

Tiba-tiba dua unit bus beriringan dari ujung parkiran bergerak menuju rombongan kami. Semoga ini bus yang ditunggu sejak tadi.

Belum sempat menarik nafas lega, bus perlahan mendekat. Dengan kondisi terisi penuh oleh penumpang lainnya. Loh??

Saya menoleh keheranan ke koordinator supir bus. Entah siapa nama beliau. Saya tidak sempat bertanya. Saya hanya menebak dari perawakannya, mungkin beliau berasal dari Timur Indonesia.

Tanpa menjawab, beliau segera menghentikan bus, dan berbincang sejenak dengan para supir bus. Sesekali terdengar beliau menghardik para supir, saking kesalnya mungkin. Selang lima menit, beliau kembali dengan tergopoh gopoh.

“Jadi begini pak, tadi mereka terpisah dari iring iringan bus kami. Tiba-tiba ada yang mengarahkan peserta dari kota lain untuk segera naik bus ini..”

Belum sempat berdiskusi, tiba-tiba ibu tadi kembali menyeletuk.

“ Mas, ini gimana? Acara seperti ini saja kok transportasinya kacau. Di tempat kami, kegiatan seperti ini kecil, Mas!!Masa kota besar seperti Makassar, tidak bisa mengurus seperti ini?!”

PLAKKK !! Seperti tamparan keras, jujur saja. Pelan saya menarik nafas, menghembuskan perlahan. Saya mengajak sang Ibu menepi dan menjelaskan duduk persoalan, bahwa ada kesalahan penumpang bus.

“ Lah, terus gimana, Mas? “

Sabar bu’ yah, akan kami cari solusi secepatnya.” Saya tersenyum meyakinkan. Senyum khas seperti malam sebelumnya.

Ketika perhatian saya teralih, Mas slamet masih sibuk koordinasi via telfon. Aswar dan Asep masih bernegoisasi dengan pihak administrasi bandara.

Seorang anak muda terlihat berbincang dengan koordinator supir bus. Saya segera menghampiri. Ternyata salah satu mahasiswa yang menjadi panitia lokal Muktamar. Masing-masing penumpang di bus, mulai tidak sabar memandang kami.

“ Begini saja pak, antar saja rombongan ku’ dulu, karena sudah terlanjur di atas bus. Nanti masalah bayarannya kita urus belakangan. Gampang,Pak” Ujar pemuda tersebut.

Bagaimanapun telinga saya memerah.

“ Tabe’ bos, ini bukan masalah tamu siapa atau bayarannya bagaimana. Sama sama tamu ta’ semua. Sama sama mengunjungi kota Makassar. Yah kita kasih saja siapa yang punya hak..!!” Saya menyela pembicaraan.

Pemuda tersebut terdiam sejenak. Seolah tidak menghiraukan dia merangkul koordinator supir, mengajak berjalan jauh. Mungkin saja mencoba negoisasi lebih halus. Saya tidak memberi kesempatan, segera menyusul dan mengikuti mereka.

Koordinator supir bingung mengambil keputusan. Saya tidak melepaskan tatapan dan mencari kepastian dari wajahnya.

Di ujung jalan ternyata telah menunggu seorang bapak paruh baya yang belakangan baru saya tahu bahwa beliau juga salah satu panitia Muktamar.

Setelah kooordinasi dengan pihak kantornya, sang koordinator memanggil kembali tiga supir bus yang sempat terpisah. Mereka didamprat habis habisan.

Liat mi ini, ulah mu semua. sejak tadi saya bilang jangan terpisah dari rombongan. Kalau begini justru saya yang kena semprot dari kantor“. Kekesalan sang koordinator akhirnya tertumpah. Untung saja kami jauh dari keramaian, tidak perlu jadi tontonan.

Ke tiga supir hanya diam cengengesan. Wajah mereka merah, malu. Mereka bingung didamprat di depan umum.

sang koordinator supir bus kembali berunding dengan panitia Muktamar.

“ Maaf pak, untuk rombongan bapak, bus nya memang masih dalam perjalanan. Bus ini memang khusus untuk rombongan bapak ini” Ujar sang koordinator seraya menunjuk ke saya

“ Kalau begitu rombongan bapak ini saja yang menunggu bus. Rombongan kami biar jalan dulu, sudah terlanjur di atas bus” Ujar bapak paruh baya tadi

Maaf pak, tamu saya juga tidak mau mi menunggu” saya menyahut segera. Tidak ada waktu untuk saling mengalah kali ini.

“Kalau begitu silahkan suruh penumpang saya turun. Saya sendiri tidak berani. Mereka juga sejak tadi pasti sudah mau cepat cepat beristirahat di hotel.”

Mendengar jawaban tersebut, saya segera meminta ke koordinator bus untuk bersiap-siap. Saya akan coba berbicara dengan rombongan yang sudah terlanjur di atas bus.

Bismillah…

Sambil berlari kecil, saya kembali menuju bus yang masih berjejer rapi. Dengan satu lompatan , saya melalui  tiga anak tangga bus sekaligus.

“ Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam bapak ibu” .

Saya berdiri di dalam bus, di depan penumpang, dengan senyum seramah mungkin. Setelah mereka menjawab salam, saya mengatur nafas dan langsung menyampaikan duduk persoalan

“ Sebelumnya kami ucapkan selamat datang di Kota Makassar, kota para Daeng. Terima kasih sudah berkenan berkunjung. Oh iya maaf sebelumnya, ada kesalahan tekhnis. Bus yang Bapak Ibu tumpangi saat ini adalah milik bus dari rombongan lain”. Saya berhenti sejenak. Bus seperti terisi dengan ribuan tawon, mereka menggumamkan kekecewaan.

“ Berhubung semuanya sama-sama tamu Makassar, kami tidak membeda-bedakan tamu manapun, kami mohon kesediaannya untuk memberi hak atas bus ini kepada rombongan yang telah memesan bus ini terlebih dahulu”. Saya kembali berhenti, tersenyum dan memandang wajah kekecewaan para penumpang.

Untung saja di bus pertama ini , nyaris semua penumpang mengerti dan segera mengangkat barang lalu turun satu per satu.

Saya melanjutkan ke bus kedua. Sang koordinator bus tampak kewalahan menghadapi kekecewaan penumpang . Saya segera naik, dan berbisik kepada beliau.

“ Maaf pak, biar saya pi yang bereskan. Minta mi’ saja sama anggota ta’ untuk bersiap-siap” . Saya mengarahkan sang koordinator untuk bersiap siap dengan supir bus lainnya.

Saya mengulangi apa yang saya lakukan di bus pertama tadi. Sayangnya di bus kedua ini beberapa peserta sulit untuk mengalah.

“Lah terus bus kami mana Mas? Masa iya kami turun, terus menunggu??” Ujar salah satu penumpang

“ Informasi terakhir, katanya bus nya sudah diperjalanan, Pak. Silahkan menunggu dulu. Bus ini sudah ada penumpangnya dan masih sementara menunggu di luar.”

Beberapa penumpang melongok ke luar melalui jendela bus.

“ Loh pak, tapi kami ini peserta utama Muktamar. Mereka hanya Tim penggembira. Harusnya kami diprioritaskan, pagi- pagi kami harus menghadiri pembukaan loh? “Sergah bapak yang tadi, bahkan kali ini sambil berdiri dari tempat duduknya.

Pelan kembali saya menghela nafas. Dari luar jendela terlihat Asep kewalahan menghadapi rombongan kami. Pemilik “tahta” bus sebenarnya.

Saya kembali tersenyum seramah mungkin. Penumpang lain malah terlihat semakin masam

Mohon maaf sekali lagi pak. Tapi bus ini terlebih dahulu telah dipesan khusus oleh rombongan kami. Biar sama sama tidak kecewa, kami harap Ibu Bapak bersedia memberikan hak mereka atas bus ini, mereka bahkan sejak subuh sudah harus ada dilokasi agar bisa mendapat tempat.” Saya kembali mengedarkan pandangan menunggu reaksi.

“ Lalu kami kemana?! Ini gimana sih panitia di Makassar kok gak becus?! Jangan sampai setelah bus ini pergi, kami diterlantarkan begitu saja” Bapak tadi kembali bersikeras.

“Pokoknya kami tidak mau turun, jika belum ada kejelasan bus kami dimana. Kami tidak mau tau, mas ini panitia atau bukan, dari agen travel atau bukan. Yang jelas kami mau bus kami ada..!!” seorang peserta lain dengan setelan parlente ikut berdiri.

Pak, kami bukan panitia yang khusus mengurus rombongan bapak. Kami malam ini ke bandarakhusus menjemput rombongan kami. Dengan bus ini, Pak !!” Tiba tiba dari arah belakang, Aswar ikut berusara, menahan kekesalan.

Saya memberi isyarat agar dia diam, dan membiarkan saya melanjutkan.

“ Insha Allah tidak akan seperti itu, Pak. Kebetulan kami dari agen travel. Panitia yang menjemput bapak ada diujung jalan menunggu bus yang khusus menjemput bapak. Kami akan bantu koordinasi dengan mereka. Sekali lagi dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada seluruh peserta Muktamar yang ada dalam bus ini, saya mohon kesediaannya agar bus ini diberikan kepada yang memiliki hak nya” .
Saya menutup negoisasi, sambil mempersilahkan penumpang turun dengan telapak tangan menuju ke arah pintu bus.

Masih bersungut sungut, perlahan satu per satu penumpang mulai turun. Sembari tersenyum dan meminta maaf, kami membantu mengangkat barang mereka turun dari bus.

” Woalahhh, gak papa kok Mas. Salah kita juga, masa iyo bus orang diserobot” Ujar seorang ibu sambil mengucapkan terima kasih dan berlalu.

Lima unit bus telah terisi penuh. Bus perlahan berjalan beriringan meninggalkan parkiran bandara. Dalam perjalanan sekali lagi saya mengucapkan selamat datang kepada rombongan dan menyampaikan ke mereka bahwa setelah sholat subuh, mereka dipersilahkan sarapan, dan bus akan siap menunggu depan hotel untuk langsung menuju lokasi pembukaan Muktamar.

image(3)

Recharge : setelah meredam ketegangan yang sempat terjadi di Bandara

Saya melirik jam di pergelangan tangan kiri. Pukul 02.30. Artinya mereka hanya punya waktu sekitar satu jam lebih untuk beristirahat setiba di hotel nantinya.

Tidak lupa saya sampaikan, di hotel telah menunggu dinner box yang akan dibagikan bersamaan dengan pembagian kunci kamar. Sebagian terlihat tidak peduli, terbawa kantuk, sebagian tersenyum. Lumayan pengobat kekecewaan atas keterlambatan malam ini, batin mereka mungkin.

Selama diperjalanan, pertanyaan seputar jarak tempuh dari bandara ke hotel dan dari hotel ke lokasi kegiatan kembali terlontar. Dengan tetap tersenyum ramah, kembali saya menjawab pertanyaan mereka. Selebihnya peserta mulai sibuk dengan kelelahan masing-masing.

Saya meraih gadget, memeriksa notifikasi di layar home. Sebuah pesan dari Achi via line, agar berkumpul kembali di Aswin inn Hotel, untuk koordinasi selanjutnya.

Saya melirik melalui spion bus. Nyaris semua penumpang terlihat lelah menahan kantuk. Tidak lama  mereka larut dalam tidur masing-masing.

Saya membayangkan kesibukan panitia lokal Muktamar kali ini. Kami saja yang hanya mengawal Tim Penggembira, mulai kerepotan. Tentu saja untuk kegiatan Nasional seperti ini, kesalahn tekhnis tidak dapat dihindarkan.

Saya berpikir, sempat membenarkan, apakah Makassar belum siap untuk kegiatan nasional seperti ini?

Masalah koordinasi, administrasi dengan petugas bandara, kesigapan panitia jika terjadi delay pesawat, kesiapan armada transportasi.

Saya segera mengalihkan pikiran. Mencoba rileks dan memejamkan mata, mencuri waktu istirahat sebelum berlomba dengan sang Fajar beberapa jam lagi.

*********

Selanjutnya https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/28/bagian-iii-menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar/

Menjemput Rezeki, Menguji Nyali di Muktamar Muhammadiyah ke-47 Makassar.(Bagian I)

Tag

, ,

Berawal pada suatu siang yang terik, di salah satu tempat “hang out” bernama Point House, yang terletak di jalan protokol AP. Pettarani, Makassar.

Kami baru saja briefing final persiapan wedding yang akan kami tangani beberapa hari ke depan.

“ Oh iya kak, awal agustus saya punya rombongan tour dari luar kota. Selama tiga hari. Bisaki’ ikut terjun bantu handle tamu..? Tournya juga palingan dalam kota ji’ “. Ujar Achi, salah satu tim yang ikut hadir pada saat itu. Saya mengajaknya sebagai freelance dalam Wedding Organize saya kali ini. Tentu saja diluar pekerjaan utamanya sebagai orang yang berkecimpung dibidang tour dan travel.

“Masalah honor, janganmaki ragu. Minimal sama lah dengan honor saya sebagai freelance di Wedding Organize ta’..hahahah..” Seloroh Achi, mencoba meyakinkan saya.

Saya berpikir sejenak. Ini bukan hanya mengenai honor. Tour travel merupakan hal yang baru sama sekali bagi saya. Saya sendiri sampai saat ini belum paham, apa yang menjadi pertimbangan Achi untuk mengajak saya bergabung di tim “Feelindo Tour & Travel” yang dipimpinnyanya.

Memuaskan orang dibidang jasa tentu saja bukan hal yang mudah. Terlebih jika kita belum memiliki pengalaman sama sekali.

“Hahahahha..jadi ceritanya kau balas dendam ini yah Achi’, masalah honor,,??” Saya berkelakar, sambil mengulur waktu berpikir sejenak.

“ OK,,DEAL…!!! Saya siap bergabung..” Segera saya meraih dan menjabat tangan Achi yang masih menari lincah di atas keybord notebooknya. Achi hanya mendengus kesal, kesibukannyasedikit terganggu.

Saya kembali menyibukkan pikiran dengan pengalaman baru yang akan saya temui nantinya

******

Nyaris dua menit saya membiarkan gadget saya bergetar, saya melirik sekilas, memperhatikan notifikasi yang muncul di layar home. Tanggung, saya melanjutkan pekerjaan saya.

Instruksi tambahan dari Achi ternyata. Dia ingin dinner dan lunch box peserta tour sekalian dihandle oleh catering saya. Setelah menghubungi Achi kembali dan memastikan menu, imajinasi saya mulai membuncah.

Saya sudah memiliki bayangan awal, minimal sekitar 450 orang jumlah tamu kali ini. Bahkan dengan memperhatikan jadwal pengatantaran catering, sudah bisa tertebak, jadwal kedatangan mereka di Makassar tidak bersamaan.

******

“Ok, jadi ini lembaran itenary peserta selama mereka di Makassar. Silahkan dibaca dan silahkan bertanya jika masih ada yang kurang jelas”

Achi baru saja memulai briefing , tepat ketika saya menghempaskan tubuh di atas sofa empuk, di lobby Aswin Hotel, salah satu hotel bintang tiga yang terletak di jalan Boulevard Makassar. Saya memperhatikan dengan seksama lembaran itenary yang dibagikan kepada tim kami sore itu.

Finally, saya sudah memiliki sedikit gambaran jelas. Selain jumlah peserta sekitar 450 orang, mereka juga tersebar di tujuh hotel bintang tiga di Makassar. Aswin inn Hotel, Trisula Hotel, JL Star Hotel, Max Hotel, Gladiol Hotel, Capital Hotel, dan Raising Hotel.

Untungnya nyaris semua hotel tersebut letaknya berdekatan. Tentu saja ini memudahkan kami dalam hal koordinasi tim. Kecuali Raising hotel yang lokasinya agak jauh dari hotel lainnya.

Saya kembali memperhatikan lembaran itenary. Ada sekitar 17 unit bus plus empat unit Avanza yang akan memobilisasi peserta selama di Makassar.

Jadi yang kita kawal ini Tim Penggembira. Bukan peserta utama Muktamar. Jadi kita sama sekali tidak bersentuhan langsung dengan panitia lokal Muktamar” Ujar Achi melanjutkan briefing.

Total keseluruhan tim kita sepuluh orang. Lima orang dari Makassar dan lima lainnya dari tim travel Surabaya. Tim dari Surabaya baru tiba sebentar malam

Saya segera mengalihkan pandangan, mencari jawaban dalam perkataan Achi barusan. Belum habis keterkejutan bahwa ternyata ini kegiatan Muktamar, sekarang saya terpaksa mengerutkan kening. Bagaimana mungkin mengawal 450 orang dengan “hanya” sepuluh orang?

Tenangmi kak, diantara sepuluh orang itu, hanya kak Achil yang bukan orang travel. Selebihnya orang yang telah berpengalaman mengawal tamu ratusan tamu.” Achi berbisik lirih menyadari keterkejutan saya.

Tapi itu riskan Achi’. Bagaimana kalau…” saya berusaha menyela.

Tenangmi kak, kita tidak punya waktu untuk berdebat. Ingat kak, satu komando..” Achi menghentikan perdebatan.

Whatever ‘Ci. You Boss nya kali ini..” . Saya mengalah dan memilih mengikuti alur. Achi tersenyum puas.

Tugas pertama saya, memastikan check in peserta ke beberapa hotel, sehingga tepat ketika peserta tiba di hotel masing-masing, mereka langsung bisa beristirahat di kamar tanpa harus direpotkan dengan urusan administrasi sebelum check in.

Urusan administrasi selesai. Saya beserta dua orang lainnya, Asep dan Aswar bergegas menuju bandara. Malam ini kami akan menjemput kedatangan peserta dua gelombang sekaligus. Gelombang pertama tiba pukul 19.30, sedangkan gelombang ke dua diperkirakan tiba pukul 20.10 WITA.

Dengan sedikit tergesa-gesa kami berlari menuju terminal kedatangan Bandara International Sultan Hasanuddin. Masih menyisakan 15 menit sebelum kedatangan gelombang pertama.

Bandara Sultan Hasanudiin terlihat sibuk.Ratusan orang memadati terminal kedatangan. Setiap jarak sekian meter terdapat rombongan tamu dari kota lain.

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sekilas saya membaca spanduk bertuliskan “ Selamat Datang Peserta O2SN di Kota Makassar”. Sesekali mata saya juga tertumbuk dengan spanduk ucapan “Selamat datang peserta Muktamar Muhammadiyah ke -47 di Kota Makassar”.image(12)

Situasi kepadatan terminal kedatangan Bandara Sultan Hasanuddin

Wajar Bandara Sultan Hasanuddin terlihat sibuk dari biasanya, tidak hanya satu, tapi ternyata ada dua event nasional sekaligus menunjuk kota yang menuju “Kota Dunia” ini sebagai tuan rumah dari ke dua event tersebut.

Antrian bus memanjang sepanjang gerbang penjemputan lantai bawah , menanti rombongan angkutan mereka. Petugas bandara terlihat hilir mudik dimana mana, memastikan operasional bandara berjalan lancar.

Selang beberapa menit, Achi menghampiri, membagikan “Sign Board” bertuliskan nama hotel masing-masing. Gelombang pertama telah tiba. Kami menanti di gerbang kedatangan. Sesekali meneriakkan nama hotel masing-masing seraya melontarkan senyuman.

Rombongan hotel Gladiol, rombongan hotel Gladiol,,,Silahkan berkumpul tepat di belakang saya..”

Dari depan, nampak beberapa orang menuju ke arah saya, sambil mengacungkan jari..

“Mas..kami ke hotel Gladiol ,, kumpul dimana mas ehh?” Tanya seorang ibu paruh baya dengan logat Surabaya yang kental

Assalamu alaikum Ibu, Selamat datang di Makassar. Silahkan langsung ke belakang saya sambil tunggu peserta lainnya” . Saya menyambut hangat peserta yang baru saja tiba.

image(1)

Mengawal rombongan hotel Gladiol menuju Bus penjemputan.

Tidak jarang saya bertabrakan pandangan dengan Achi. Dia tersenyum geli melihat “keramahan” saya yang mungkin agak berelebihan menurutnya.

Kak,bisa tidak senyumta’ biasa saja. Eneg saya lihatnya hahaha..” Achi menghampiri sambil berseloroh

Loh,apa yang salah. Mereka pasti capek setelah perjalanan udara. Belum lapar. Haruski’ kasih semangat. Kita juga tunjukkan orang Makassar itu hangat dan ramah” saya mengelak dan kembali fokus mencari rombongan.

“ Yaaakk. Hotel Gladiol..hotel Gladiol..silahkan berkumpul di belakang saya, Pak, Bu’. Selamat datang di Makassar.”

Rombongan gelombang pertama telah berkumpul. Saya melirik papan informasi. Pesawat gelombang berikutnya mengalami delay setengah jam. Achi segera memberi instruksi untuk membagikan dinner box kepada peserta yang telah tiba.

Saya bergegas, tidak lupa dengan senyum khas saya malam itu. Kami kemudian membiarkan peserta meregangkan otot sejenak sambil menikmati santap malam mereka.

Setelah rombongan kedua tiba, semua peserta segera diarahkan menuju bus penjemputan . Selama perjalanan, hanya beberapa pertanyaan yang terlontar dari peserta, termasuk jarak tempuh Bandara ke hotel dan jarak tempuh hotel ke lokasi pembukaan Muktamar.

Setelah pertanyaan mereka terjawab, saya menyampaikan informasi bahwa besok kita akan sarapan setelah sholat subuh, dan selanjutnya langsung berangkat dari hotel menuju Lapangan Karebosi yang menjadi lokasi pembukaan Muktamar ke-47.

Hal ini untuk menghindari kemacetan dan peserta dapat diturunkan langsung tepat di gerbang lokasi ketika jalan masih sepi.

Saya menghela nafas lega. Jujur saja saya belum siap untuk menjawab pertanyaan lainnya layaknya seorang “guide” professional. Selanjutnya saya memilih diam. Kembali membiarkan peserta bersantai di atas bus, hinggga tiba di hotel tujuan.

Tim kembali berkumpul di Aswin inn Hotel. Briefing dengan tim Surabaya. Selanjutnya bersiap untuk penjemputan gelombang ke tiga, pukul 00.30 dini hari.

******

Selanjutnya

https://asrildansekitarnya.wordpress.com/2015/08/20/menjemput-rezeki-menguji-nyali-di-muktamar-muhammadiyah-ke-47-makassar-bagian-ii/

Kelas Menulis Kepo “Di Bawah Mantra Para Penulis Superior”

Kelas sementara berlangsung ketika saya datang.  Kurang lebih dua belas orang duduk melantai dan melingkar sambil diskusi.  Wajah mereka sama sekali tidak asing lagi bagi saya, kami saling mengenal satu sama lain. Mereka hanya menoleh sejenak, lalu kembali fokus pada apa yang disampaikan oleh kedua sosok, Kak Anwar Daeng Jimpe Rachman dan Kak Ipul Daeng Gassing, yang menjadi “pusat informasi” malam itu. Tidak ingin mengganggu jalannya kelas, saya segera mengambil tempat, menyelip diantara peserta lainnya.

Akhirnya,  saya menginjakkan kaki di Kampung Buku setelah beberapa kali hanya nyaris berkunjung. Sedikit berbeda dengan gambaran yang ada di benak saya , ternyata kampung buku adalah sebuah rumah dengan beranda dan bagian samping bangunan utamanya  disulap menjadi perpustakaan mini.  Di berandanya sendiri terdapat dua-tiga unit rak buku, menjulang nyaris menyentuh plafon.  Beberapa meja lesehan terletak  begitu saja, khusus bagi  pengunjung yang ingin membaca lebih santai di ruang terbuka.

Di sebelah kanan beranda, suasana lebih serius. Sebuah ruangan dengan lebih banyak rak buku dan  koleksi di dalamnya, serta meja dan bangku untuk anda yang mungkin menginginkan konsentrasi khusus pada saat membaca.

Kelas saat itu berlangsung di beranda. Mereka menyebut kegiatan ini Kelas Menulis Kepo, bagaimana menyajikan dan menggali  tulisan dengan sedalam dalamnya.  Jujur saja saya kurang begitu paham dan kurang antusias. Kantuk dan lelah terlanjur  menyerang bersamaan akibat beraktifitas seharian penuh. Salah saya sendiri, siang tadi ketika membaca info tentang kegiatan ini di group line, saya terlalu antusias untuk menyampaikan informasi dan mengajak teman teman  Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2015 agar ikut terlibat.

Harapan saya sederhana, euforia dan semua yang terjadi di balik layar PKM 2015 dapat terekam dalam sebuah tulisan.

Sayangnya, antusias mereka masih sebatas group line.  Tidak ada pilihan lain, mau tidak mau saya harus datang, terlanjur kelihatan antusias untuk kegiatan tersebut.

Pukul 21.30 Wita, dan di sinilah saya, Kelas Menulis Kepo Kampung Buku, setelah memaksakan diri hadir. Menahan kantuk, dan bosan. Sesekali memainkan smartphone, membuka chat dan menyimak pembicaraan group.

Kebosanan masih melanda, mungkin karena saya belum menemukan passion di bidang menulis, meskipun kegemaran utama saya adalah membaca. Dapat dipastikan setiap malam sebelum tidur saya membaca buku apa saja. Kebiasaan yang saya lakoni sejak duduk di bangku SMP. Tidak jarang jika kehabisan buku bacaan, saya berselancar di dunia maya dan menjadi stalker dari tulisan beberapa orang yang ada di hadapan saya saat ini.

Sayangnya saya hanya sebagai penikmat.  Belum mampu untuk membuat tulisan. Menurut saya menulis tidak seperti kegiatan lain yang bisa kita pelajari secara  otodidak. Untuk belajar langsung pun saya mengalami kesulitan. Padahal saya memiliki kenalan beberapa penulis Makassar yang mumpuni.  Tapi hanya sebatas kenal, melalui beberapa kali tatap muka maupun obrolan basa basi di beberapa kegiatan.

Entah kenapa saya selalu mengalami kesulitan dengan orang-orang yang terlibat dengan kesusastraan, khususnya penulis.  Rasanya begitu sulit berkomunikasi dengan mereka. Kecuali untuk obrolan yang bersifat serius tentu saja.

Dalam pandangan saya, nyaris semua penulis yang saya kenal tergolong aneh. Di satu sisi mereka  kadang terlihat serius, kaku dan  sedikit membosankan. Tidak jarang saya menemukan mereka berkumpul dalam satu meja, duduk berjam-jam lamanya,  menatap layar monitor masing-masing , menghabiskan bergelas-gelas kopi, dan tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya.

Di waktu lain saya menemukan mereka berkumpul dalam satu meja, mengobrol ngalur ngidul ke sana kemari, kemudian tertawa terbahak bahak untuk lelucon yang membuat saya bergumam “ Hello every body, bisa bisikkan ke saya di mana letak lucu nya??”

Pernahkan anda berbincang  dengan seseorang dan orang tersebut seolah-olah dapat membaca semua yang ada di dalam diri kita? Anda seperti merasa di”telanjangi”, seolah-olah menjadi tersangka untuk kriminalitas yang tidak pernah anda lakukan. Sungguh tidak nyaman.

Tidak berhenti di situ, saya masih sering bertanya-tanya, mengapa penulis pada umumnya terlihat begitu “Superior”, jika tidak dapat disebut arogan?. Mereka memiliki dunia dan pemikiran  masing-masing. Dan dengan cara mereka pula , kita bisa terbawa jauh dan larut dalam setiap susunan kata  yang mereka rangkai. Pernahkah anda menjadi seorang nara sumber untuk sebuah tulisan, lalu anda kaget sendiri ketika membaca tulisan tersebut? Mereka menceritakannya jauh lebih baik dan lebih klimaks. Iya, mereka seenaknya menyusun kisah yang jauh lebih sempurna seolah olah mereka ikut mengalaminya sendiri.

Bahkan untuk semua pengetahuan dan informasi yang mereka miliki, saya terkadang merasa terintimidasi jika mengobrol dengan mereka. Obrolan tidak akan pernah berlangsung  lama. Saya selalu mencari celah untuk menyudahi obrolan dengan sopan. Sepuluh menit mungkin rekor terlama ketika mengobrol dengan mereka. Yahh, kecuali kami bertemu pada kegiatan tertentu, dan saya  bertugas sebagai MC yang memandu talkshow.

Saat itu saya harus kelihatan tertarik dan memainkan durasi agar acara kelihatan lebih menarik, dan tentu saja agar saya tidak kelihatan tampak bodoh di depan mereka. Untuk bagian ini, saya terkadang was was apakah mereka tahu kalau saya hanya pura-pura tertarik?

Beberapa point di atas selalu menjadi pertimbangan saya ketika ingin belajar menulis. Seperti ada tembok besar antara saya dengan mereka.  Termasuk malam ini, tentu saja  saya datang bukan untuk serius belajar menulis. Lebih karena menghargai ajakan beberapa teman untuk menghadiri kelas  dan terlanjur “kelihatan” antusias untuk mengikuti kelas tersebut.

Materi kelas menulis masih berlangsung, sementara khayalan saya tentang sosok penulis masih mengembara kemana-mana.  Selang beberapa waktu, perhatian saya sontak teralihkan ketika telinga saya samar-samar menangkap apa yang disampaikan kak Anwar”Daeng Jimpe”Rachman , salah satu penulis senior yang juga menjadi pusat informasi malam ini.  “Minimal perlihatkan antusias kalian, kita semua yang hadir di sini sama-sama orang sibuk, banyak kegiatan di luar sana, dan saya khusus datang ke sini untuk berbagi pengetahuan”

Entah mengapa, saya merasa tidak asing dengan kata kata tersebut. Saya yakin, pernah mengucapkan kalimat serupa,tidak hanya sekali. Sungguh tidak nyaman berada di posisi itu. Ketika kita bersusah payah menyisihkan waktu disela sela kesibukan untuk berbagi pengetahuan, meninggalkan tugas utama, berbicara panjang lebar dengan penuh semangat, sementara ketika kita mengedarkan pandangan, yang tertangkap adalah  orang orang dengan tatapan  kosong dan kurang antusias mendengarkan apa yang kita sampaikan? Saya menyebutnya tindakan bejat dan amoral. Orang-orang yang tidak mengargai ilmu pengetahuan. Dan heiii..!! Bukankah saya baru saja melakukannya?

Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, untuk memastikan apakah kalimat barusan ditujukan khusus ke saya atau untuk seluruh peserta. Beberapa pandangan masih fokus ke depan, selebihnya sibuk membuat catatan catatan kecil. Tidak ada pandangan aneh yang tertuju pada saya. Saya menghembuskan nafas lega lalu tersenyum kecil.

Berikutnya, seperti yang sudah saya duga.  Kak Ipul Daeng Gassing, yang juga penulis senior Makassar, ( Silahkan baca tulisan tulisan beliau di daengGassing.com )menantang beberapa Panitia PKM 2015 yang hadir di kelas ini untuk membuat tulisan tentang PKM 2015. Tidak tanggung tanggung, tulisan harus selesai dalam kurun waktu kurang dari semingggu.  Sekali lagi penulis itu memiliki “Superior” tersendiri. Apa yang mereka sampaikan seperti sebuah mantra, anda akan melakukan apa yang mereka sampaikan meskipun  anda belum tentu ingin melakukannya.

Setelah mengangguk lemah dan menggumamkan kata “iya..” nyaris tidak terdengar, saya pun langsung membuat blog melalui smartphone saat itu juga. Selebihnya saya tidak fokus lagi mendengarkan materi yang disampaikan. Hingga saat kelas istirahat sejenak dan saya pamit pulang.

*******

Beberapa hari kemudian….

Saya menenggak kopi untuk gelas ke sekian,  sambil melirik jarum jam di tangan kiri. Pukul 03.44 dini hari. Tidak terasa nyaris lima jam saya sibuk dengan layar monitor. Menulis, membaca ulang, kurang pas, hapus, menulis, membaca ulang, kurang pas, hapus , begitu seterusnya dan hanya menghasilkan satu paragraph.

Saya meraih smartphone  dan membuka aplikasi blog, melihat statistic pengunjung. Senyum saya merekah, jantung sepertinya ingin meloncat keluar. Sudah ada 20 an pengunjung. Saya tersenyum geli sekaligus senang. Ada kebahagiaan tersendiri jika tulisan kita dibaca orang lain, terlepas apapun pendapat mereka.

Biasanya setiap tiba di” Teras” ( Kedai ice cream yang saya kelola bersama beberapa teman ), saya akan menyapa pengunjung yang saya kenal, lalu mengobrol dengan mereka hingga berjam jam lamanya. Akhir akhir ini, saya memilih menyapa mereka sejenak , lalu membuka laptop dan berlatih menulis tentang apa saja. Saya hanya tersenyum sumringah ketika salah seorang sahabat saya berkomentar “ berubahnamo kak achil. Jarangmi main main sama kita’, kaku ta’ mi”.

See..?!, bahkan untuk penulis pemula seperti saya langsung terlihat serius dan kaku dimata sahabat saya sendiri.

Secara tidak sadar, saya ternyata asyik dengan dunia baru. Menemukan kebebasan berekspresi dalam bentuk lain. Ketika saya ingin berteriak tapi takut terdengar , ketika saya sedih tapi takut kelihatan cengeng. Atau ketika saya bahagia, ingin melompat ke sana kemari tapi takut kelihatan kekanak kanakan. Saya menumpahkan semuanya ke dalam tulisan, dan sedih, senang, bosan, atau tentang apa saja, tanpa perlu takut apapun.

Tulisan pertama saya telah dipublish kemarin, setelah melalui proses asistensi yang menurut saya lebih mendebarkan dari asistensi skripsi sekalipun. Seperti juru masak yang menyerahkan masakan pertamanya  ke chef , seperti tukang jahit yang menyerahkan hasil jahitan pertama nya ke designer handal.  Dua puluh menit yang mendebarkan, setelah asistensi ke Kak Ipul Daeng Gassing dan Kak Lelaki Bugis, masih banyak catatan merah secara tekhnis, selebihnya saya diarahkan untuk terus menulis agar kemampuan terus terasah.

Saya membuka obrolan line group “kelas menulis kepo”. Beberapa link tulisan telah dilempar sebelumnya. Hampir di setiap tulisan kami terseret, larut , lalu secara tidak sadar seperti berada di bawah pengaruh mantra, kami berlomba untuk membuat tulisan.  Bahkan ada yang membuat dua tulisan sekaligus !! Sayangnya kami menikmati ini, meskipun masih banyak pekerjaan lain yang harus rela jadi prioritas kedua.

Ini tulisan kedua saya, setelah sebelumnya sudah ada dua draft yang menunggu untuk diselesaikan. Salah seorang teman di PKM2015 juga bahkan ikut berjanji akan menyelesaikan tulisannya minggu ini, padahal dia belum sempat mengikuti kelas menulis kepo. Entahlah, semoga dia tidak melihat saya sebagai “Superior” yang membacakan mantra.

Berawal dari ucapan kak Anwar Jimpe Rachman, “Minimal perlihatkan antusias kalian, kita semua yang hadir di sini sama-sama orang sibuk, banyak kegiatan di luar sana, dan saya khusus datang ke sini untuk berbagi pengetahuan” , saya beruntung sempat mengikuti kelas ini tanpa dipungut bayaran sekalipun. Seharusnya kelas seperti ini dibuat lebih exclusive dan terbatas, biar orang orang seperti saya tahu bahwa semua orang ahli di bidang masing-masing, dan butuh pengorbanan khusus untuk mendapatkan pengetahuan mereka.

Oiya, satu kemajuan besar..!! Sekarang saya sudah satu group dengan para Superior, meskipun komunikasi kami masih terbata-bata. Terkadang saya malah jadi silent reader atau ikut nimbrung sekali kali jika perlu.

Semoga saja saya masih terus di bawah mantra mereka.

Awas..!! Agenda Tersembunyi di Balik PKM2015 !!!

Berawal dari pesan singkat sekitar tiga bulan yang lalu,  ketika saya diajak  bergabung menjadi salah satu Sterring Committe mendampingi panitia pelaksana PKM2015. Saya memantapkan hati ditengah-tengah aktifitas yang cukup padat. Tidak tanggung-tanggung, saya harus menolak secara halus beberapa tawaran  Wedding dan Event yang menjadi pekerjaan utama  agar tetap fokus mengawal pelaksanaan PKM2015.

Pesta Komunitas Makassar sendiri telah memasuki tahun kedua. Pertama kali terselenggara pada tahun 2014, dengan melibatkan 75 komunitas , dengan persiapan kurang lebih sekitar enam bulan. Sebagai kegiatan yang pertama kali dilaksanakan, acara ini terbilang sukses. Setidaknya Monumen Mandala menjadi saksi pada tanggal 25-26 Mei 2014 bagaimana 75 komunitas memiliki wadah pemersatu visi dan misi untuk perkembangan kota Makassar ke depan.  Tentunya masih terdapat banyak kekurangan  dalam pelaksanaan PKM 2014. Sebagai salah satu orang yang terjun langsung di belakang panggung tahun lalu, saya pun memiliki catatan pribadi yang cukup panjang dan menjadikannya referensi untuk pelaksanaan PKM berikutnya. Tantangan terberat tentu saja bagaimana agar kegiatan ini tidak terlihat hanya sebagai kegiatan “hura-hura”,  namun dapat memperlihatkan proses sinergi antara komunitas di Makassar.

pesta_komunitas_makassar_pkm_2014

   Pesta Komunitas Makassar 2014, 25-16 Mei 2014, Monumen Mandala Makassar.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, persiapan PKM 2015 kali ini hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Dengan jumlah peserta nyaris dua kali lipat dari tahun sebelumnya, tentunya bukan hal yang mudah mengakomodir ide dan gagasan dari 130 komunitas.

Enam minggu terakhir bahkan panitia semakin rutin melaksanakan rapat dadakan mulai sore hingga dini hari. Siklus tidur dan ritme hidup mulai terganggu. Tidak terhitung konflik internal dan eksternal yang terjadi.  Setiap ide, konsep, dan gagasan terbaik pun ditumpahkan. Namun selang waktu kemudian “bahan mentah” harus kembali berubah seiring dengan kondisi jumlah peserta yang terus bertambah.

Fort Rotterdam, 6-7 Juni 2015

Hari “H” pun tiba, setelah melakukan kesepakatan dengan  pelaksana Makassar Indonesian Writter Festival yang melakukan kegiatan di lokasi yang sama hingga tanggal 05 Juni 2015, panitia kembali menggenjot  tenaga. Loading perlengkapan, lighting, panggung, dan kurang lebih 60 unit tenda, hanya dapat dilakukan pada saat saat tertentu, tepatnya tanggal 05 Juni dari pukul 00.00-06.00 Wita, dan tanggal 06 Juni dari pukul 00.00 -09.00 Wita. Itu berarti bahwa panitia hanya memiliki waktu 15 Jam, untuk menyiapkan Fort Rotterdam menjadi lokasi pelaksanaan PKM 2015.

Pukul 11.00 Wita pengunjung mulai berdatangan.  Seluruh komunitas dari kategori  hobby, travelling, IT dan Onliners, Sosial edukasi dan lingkungan, kreatif, hingga Foto dan videography mendadak sibuk menjawab beberapa pertanyaan pengunjung . Sesekali mereka memberi pemahaman lebih mendalam seperti apa komunitas mereka. Setiap komunitas nyaris menebar virus mereka masing-masing. Tidak sedikit dari pengunjung yang langsung mendaftar menjadi member baru sesuai dengan minat mereka.

Menjelang siang, sekitar pukul 13.00 Wita, area pameran komunitas mulai sepi pengunjung. Tampak hanya sekitar 2-3 orang yang menjaga booth setiap komunitas. Sebagian pengunjung bergeser memadati foodcourt area , selebihnya tersebar di beberapa selasar area Fort Rotterdam mengikuti kegiatan Project Kolaborasi yang menjadi “hidangan utama” PKM2015.


CGzBh9LUAAAMiWX

Suasana Project kolaborasi

(setiap perwakilan komunitas memaparkan ide terbaik untuk dilaksanakan bersama)

Project kolaborasi merupakan modifikasi dari item kegiatan kelas kolaborasi tahun lalu. Jika kelas kolaborasi lebih menekankan pada konsep coaching clinic maka pada project kolaborasi, masing masing komunitas setiap kategori, diberi waktu untuk memaparkan ide terbaik sekaligus next  project mereka. Selanjutnya akan  dipilih dua ide terbaik dari setiap kategori untuk diwujudkan secara bersama-sama. Nyaris selama tiga jam,secara paralel “perang ide” berlangsung alot di setiap kategori komunitas.

Matahari  perlahan beranjak ke barat, pengunjung makin ramai, lahan parkir penuh hingga terpaksa harus menutup sebagian arus jalan. Di depan panggung utama nampak beberapa gadis cilik dari KPAJ (KOmunitas Pencinta Anak Jalanan)  mengenakan baju bodo putih membawakan tari Tulolona.

Kegiatan berlanjut dengan beberapa permainan kelompok  yang mulai dari sarung bersinergi, pipa bocor, bakiak dan permainan lainnya. Seakan tidak ingin berhenti memuaskan pengunjung, terdapat juga area Family Space bagi mereka yang datang bersama keluarga, mulai dari taman bermain khusus anak kecil, area selonjoran sambil ngemil menikmati kegiatan yang berlangsung, hingga ayunan bergantung (hammock) . Sesekali terdengar Jinggle PKM2015 mengalun, membuat suasana lebih ceria di bawah langit Fort Rotterdam.

Pukul 18.30 Wita, malam panggung kolaborasi dimulai. Selama tujuh menit sekitar 100 performance beraksi sekaligus dalam satu aksi panggung.  Diawali dengan live band opening  lintas komunitas, Indonesian Drummer Makassar, YUI Lovers, Makassar Beatbox Squad, Standup Comedy, Hijabers, dan Makassar Talent hijab Community yang berharmoni membawakan aransemen  “Ekspresi”  Titi Dj hasil ulikan mereka, mengiringi aksi kolaborasi  tari, parkour freestyle, fashion show, hingga pembawa panji bendera masing masing komunitas yang beratraksi di depan panggung. Sorak riuh tepuk tangan pengunjung tidak berhenti menggema hingga pertunjukkan selesai.

Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan MoU  oleh Kepala Dinas  Pariwisata dan Ekonomi kreatif Kota Makassar, sekaligus membuka PKM 2015 secara resmi.

CG0PUtdVAAA7hiA

Opening ceremonial malam panggung kolaborasi PKM2015

Panggung semakin panas, setiap pengisi acara berkolaborasi minimal dengan komunitas lain untuk beraksi di panggung utama. Mereka seolah berlomba untuk memberikan hiburan terbaik bagi warga Makassar. Bahkan pengunjung tidak sadar ketika Band Pajappa membawakan Jinggle PKM 2015 sebagai tanda  puncak hari pertama.

CG5KIGyUQAEk1E9

Hari ke dua PKM 2015, penonton terlebih dahulu memadati area depang panggung sebelum acara dimulai

Hari ke dua PKM 2015 berlangsung lebih meriah. Bahkan mata Indonesia berpaling sejenak. Secara tidak sengaja #PKM2015 sempat menjadi trending topic ke dua  di twitter. Tidak hanya itu,mengutip pernyataan salah satu personil kemanan setempat selama sepuluh tahun saya menjaga tempat ini, belum ada kegiatan yang seramai ini, kami khawatir dengan jumlah pengunjung yang terus membludak dan keamanan menjadi tidak terkendali”.

Mendengar hal tersebut, panitia segera melakukan briefing mendadak selama 10 menit. Merka membagi area ,menyebar dan membentuk tim keamanan sendiri.


proxy

Talkshow dan ajang curhat komunitas

proxy (1)

Malam Puncak Hari ke dua PKM 2015

Masih dihari ke dua PKM 2015, sore hari berlangsung talkshow sekaligus ajang curhat antara komunitas dengan  Kepala Dinas Pariwisata dan Ekomoni Kreatif Kota Makassar. Sementara pada malam hari, panggung tidak hanya diisi oleh performance kolaborasi, tetapi juga penganugerahan PKM Award bagi komunitas berprestasi. Malam puncak dihari kedua ditutup dengan aksi dari The Maczman yang mengajak seluruh pengunjung untuk menyanyi dan menari bersama.Nyaris semua pengunjung pulang dengan rona kepuasan malam itu setelah larut dalam euforia.

Sekilas kegiatan tersebut tidak lebih dari pagelaran aksi panggung semata. Namun sebagian dari kita mungkin juga tidak sadar bahwa untuk menampilkan satu item atraksi paggung  kolaborasi saja,  ada proses yang harus dilalui, mulai dari saling bertukar konsep dan ide, saling menyingkirkan ego, saling menyisihkan waktu khusus latihan, demi memberikan persembahan terbaik di PKM 2015

Tidak hanya itu, secara pribadi ada satu hal yang menjadi perhatian utama dalam pelaksaan PKM 2015 kali ini sekaligus menjadi PR yang belum terselesaikan. Project Kolaborasi.

Jika teman teman PKM2015 berhasil mengawal ide Project Kolaborasi dari enam kategori, dan setiap kategori memiliki dua ide terbaik, maka minimal ada dua belas ide output dari kegiatan ini.

JIka setiap ide dilaksanakan secara bersama sama minimal sekali sebulan, dapat diprediksikan, minimal selama satu tahun ke depan, setiap bulan kota Makassar akan sangat disibukkan  dengan kegiatan kegiatan positif hasil dari kolaborasi anak-anak muda Makassar. Inilah yang menjadi agenda tersembunyi PKM2015.  Agenda inilah yang harus tetap terkawal hingga PKM 2016.

Secara tidak langsung  image anak muda makassar akan bertransformasi, bukan hanya anak muda yang bisa MENUNTUT perubahan, tapi sekaligus menjadi anak muda yang MELAKUKAN  perubahan.

Tidak menutup kemungkinan,Indonesia akan menjadikan Makassar sebagai kiblat kota kreatif untuk kota kota lainnya.

Pesta baru saja dimulai anak muda !! Saatnya ber-KOLABORASI, ber-HARMONI, dan ber-AKSI yang sesungguhnya.

Salam hormat saya untuk 130 Komunitas  yang menjadi panitia pelaksana, peserta, sekaligus pengisi acara PKM 2105.

Salam, SINERGI, HARMONI, AKSI!!!

…berikutnya, dibalik layar PKM2015

Hai..!!

Bismillahirrahmanirahim

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hai..!! 

Kata pertama saat kita bertemu dengan orang lain, entah itu pertemuan untuk pertama kali, pertemuan ke dua atau seterusnya.

Hai..!!

Melalui tulisan ini saya menyapa, entah bagi anda yang baru pertama kali membaca tulisan saya atau bagi siapa saja yang pernah membaca tulisan saya di blog sebelumnya (kalau ada yang pernah temukan blog saya).

Apa yang anda baca dalam tulisan tulisan saya berikutnya adalah pendapat dan pandangan pribadi saya sebagai seorang “Asril Sani”. Tentunya tidak ada yang salah dan benar jika kita berbicara pandangan secara pribadi. Apa yang anda baca berikutnya adalah hanyalah sebagai bahan referensi dan bahan perbandingan jika diperlukan.

Semoga ini menjadi blog saya yang bertahan, tanpa harus lupa email dan password , hanya karena tidak pernah mengunjungi blog sendiri denagn alasan mood  dan kekurangan bahan.

Hai..!!

Salam kenal, saya Asril.

Selamat datang di dunia “Asril dan sekitarnya “